Sehabis menonton “Mens Rea” di Netflix, saya langsing keheranan: “Berani sih ini Om Botak! Kalau jadi Pandji, walau dirasa benar, saya akan simpan rapat-rapat dikepala. Gak berani diomongin!”
Tulisan ini akan saya bahas, kenapa Komedian ala Pandji itu penting.
“Berani” dan “Nekat” memang tipis bedanya. Tapi perbedaannya terletak pada kemampuan orang mengukur risiko. Orang nekat akan berorientasi pada pelepasan emosi dengan mengabaikan risiko; Orang berani, berorientasi pada “kebenaran”. Dan Pandji, adalah salah satu yang Berani. Orang yang melaporkan, baru namanya “nekat” hehe :D.
Kasus ini merubah perspektif saya pada Komedi. Komedian ini sering kali dianggap dengan ‘badut’ yang tugasnya membuat orang tertawa. Apa yang diucap oleh Komedian ya cuma angin-angin hampa bak kita nonton Srimulat dulu: jatuh dari kursi, kacamata kena mata, nangis karena kakinya keinjek. Akan tetapi komedian gakse-bercanda itu. Badut Istana (Court Jester) adalah satu-satunya orang yang bisa ngatain ‘raja bodoh’ di depan raja. Raja tertawa dan para badut ini tidak bisa dihukum (Sering disebut dengan Jester’s Privilege)
Di budaya kita sendiri, Jawa punya contoh sempurna lewat tokoh Punakawan: Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Meskipun mereka tampil sebagai abdi atau pelayan yang kelihatannya konyol dan suka bercanda, peran mereka sebenarnya sangat “sakti”. Di tengah cerita wayang yang kaku dan serius, cuma Punakawan yang berani meledek kesalahan para ksatria gagah, bahkan menyindir para Dewa, tanpa takut dihukum. Mirip seperti badut istana.
Dampak komedian juga besar. Kita perlu tahu ada seorang komedian Italia bernama Beppe Grillo. Ia sebel dengan kondisi parlemen Italia yang — menurut keyakinan Grillo — penuh dengan koruptor. Singkatnya, ia membuat gerakan V-Day (singkatan dari Vaffanculo Day atau “Hari Persetan”), yang mengajak jutaan orang untuk turun ke jalan cuma untuk neriakin “Persetan!” kepada para politisi yang korup. Itu mungkin lucu ya bagi kita, tapi cukup buat pejabat-pejabat gemetar.
Oke disini kita perlu sepakat bahwa Komedi itu sebuah cara untuk seperti defence mechanism dari demokrasi kita. Selama komedi-komedi seperti ini masih aman bersuara, dan orang (walaupun menjadi objek lawakan) ikut menertawakan, berarti Indonesia baik-baik saja. Akan tetapi, apabila pejabat/pemerintah/orang yang terlalu literalist dan memaknai lawakan tanpa mengenang nuansa, majas, atau satire dan cenderung menjadi kill joy — terlalu serius menanggapi ini, maka, waduh!, berarti ada persoalan serius di negara kita.
Kejenakaan yang diakui kebenarannya oleh sebagian orang serta me-sitasi fakta-fakta yang sudah ada, namun akhirnya dipersoalkan. Lalu bagaimana nasib kita, peneliti dan akademia, yang bisa saja mengkritisi dengan cara yang serius. Bisa jadi kami lebih dipermasalahkan.
Dalam kacamata filsafat (maaf ngalor ngidul), ketakutan terhadap lelucon ini sebenarnya menandakan fenomena desakralisasi kekuasaan. Maksudnya, penguasa yang anti-kritik biasanya membangun tembok kekuasaan mereka dengan batu bata ‘rasa takut’ dan semen ‘kewibawaan’. Komedi, dengan perspektif dari diskusi kita sampai di titik ini, adalah ancaman terbesar bagi konstruksi ini karena tawa bersifat membebaskan; saat kita tertawa, rasa takut itu hilang dan ‘raja’ yang mulia seketika terlihat telanjang dan manusiawi. Maka, jika negara mulai sibuk memenjarakan para ‘badut’ pembawa gelak tawa, itu sesungguhnya bukan tanda negara sedang kuat menegakkan hukum, melainkan tanda penguasa sedang panik karena wibawanya runtuh oleh jenaka yang tak mampu mereka bantah. Garis bawahi: tidak mampu mereka bantah. Ironisnya, tapi juga bagian lucunya, ketika badut yang bicara jujur dilarang tampil di panggung, panggung politiklah yang akhirnya berubah menjadi sirkus yang tak lucu.
Pada akhirnya, kita sih butuh komedian-komedian yang berani bersuara. Kita gak ingin daya kritis kita mati, apalagi selera humor juga ikut mati. Kepada Bapak-Ibu, raja-raja, yang mulia: ini cuma komedi, Tuan!. Jangan terlalu jadi snowflakes yang rapuh. Kalau misal baper, yuk kita mulai lagi dengan nonton Warkop biar selera humornya tumbuh lagi 😀


Leave a Reply