Story

Vaalseberg

Seorang Pria menatap layu rumah tua di depanya. Entah berapa lama ia berdiri tegap di sana, namun yang pasti matahari sudah mulai turun di balik bukit Vaalserberg – tanah tertinggi di negeri ini. Tangan kasarnya meraba saku di jaket wol lusuh dan menarik arloji yang menggantung di sana, melirik sejenak lalu kembali menatap rumah itu. Kali ini dengan tatapan yang lebih layu.

Celana khaki kumal yang tidak dicuci selama berbulan-bulan serta sepatu kulit kedelai melekat mesra di kulitnya. Kakinya – juga dengan sepatu kulit keledainya – hanya sesekali bergeser di pekarangan tidak terawat yang rumputnya mempunyai tinggi tidak merata. Di balik pekarangan rumah itu berdiri tegap dan berwibawa rumah kayu tanpa penghuni yang sudah ada sejak dua dekade lalu untuk menemani pria yang terus menatapnya tumbuh besar.

Pria itu bernama Andre, orang-orang menyebutnya seorang imigran asal Hindia Belanda, tapi ia sangat sulit menjelaskannya.

***

tiga puluh tahun lalu, Ayahku yang berasal dari pulau terpencil di Hindia Belanda datang ke negeri ini sebagai budak kapal. Karena bekerja sangat brilliant, ia mendapatkan pekerjaan baru yang lebih layak sebagai budak kayu. Uang yang dikumpulkannya ia gunakan untuk pergi ke tempat terpencil di negeri ini untuk membangun sendiri rumah kayunya. Lalu di tempat ini  ia  menikah dengan wanita belanda yatim piatu yang teramat sengsara yang mencintai ayahku hingga akhir hidupnya, wanita itu adalah ibuku.

Tuan Thooren yang mempekerjakan Ayahku hingga sama-sama renta tinggal di rumah kayu yang lebih besar sekitar empat mil dari tempat ini, Tuan Thooren sering datang ke rumah ini untuk sesekali minum kopi untuk berbincang dan tertawa bersama ayahku. Mereka adalah teman yang sangat akrab.

Sedangkan teman akrabku bernama Danny Van Houcke. Aku memanggilnya Danny si bulan purnama karena wajahnya yang  berbintik, bulat, dan putih pucat seperti bulan purnama. Namun aku malu untuk mengatakan bahwa sebenarnya dirinya bersinar seperti bulan purnama – yang menyinariku di kegelapan. Kami sangat melengkapi, aku yang pandai dalam karya seni dan sastra sedangkan ia sangat menggilai ilmu alam dan matematika. Ia ingin sekali menjadi seperti Bernhard Riemann seorang matematikawan besar yang berasal dari keluarga miskin. Ia baru tahu dua tahun setelahnya bahwa Riemann adalah seorang bangsa Jerman, bangsa yang dibenci oleh ayahnya.

Aku bersekolah dengan berjalan kaki sejauh tiga mil dari rumahku, memerlukan waktu yang melelahkan. Walau jaraknya tidak sejauh jarakku, Danny menggunakan sepeda Raleigh kesayangannya ke seoklah. Aku sangat menginginkan sepeda karena bisa memotong waktu dan memamerkannya di depan orang-orang yang memojokkanku dengan sebutan imigran. Namun pada dasarnya, mereka semua menerima perbedaan dalam keluargaku karena ayahku sangat baik dan sering membantu mereka dalam masalah pertukangan.

Semua berjalan apa adanya selama bertahun-tahun setelahnya, kami berbahagia dan aku menganggap aku seorang Belanda yang beruntung ; Memiliki keluarga lengkap yang bersahaja ; Teman baikku dan sekolah yang menyenangkan. Tapi, semua itu berubah ketika ibuku jatuh  sakit.

Ayahku adalah orang yang periang, setidaknya itu menurutku. Namun semenjak kesehatan ibuku menurun ia menjadi seorang yang pemurung dan selalu terjaga di tengah malam. Suatu hari ketika aku terbangun karena kegaduhan di beranda rumah, aku mendapatkan ayahku terisak-isak karena suatu hal yang misterius. Aku melihat perjuangan hidupnya yang keras dan kerap mendapatkan perlakuan keji tidak pernah membuatnya menangis dan kini ia menangis seperti anak kecil. Aku merasakan ini adalah persoalan yang sangat menyayat dan menyakitkan. Di hari-hari setelahnya, aku tahu bahwa ibuku mendapatkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Itu membuat aku terpukul. Tapi kutahu, bukan itu pula menjadi alasan ayahku menangis, aku semakin bingung.

***

“Andre, kau harus tahu sebelum kau lahir aku ingin memberi namamu Andriatno,” Ayah Andre sembari merapikan dan memilin sudut seprai yang sudah berantakan. Di atasnya ibunya meradang pasrah atas penyakitnya yang menggerogoti isi tubuhnya, “Kau tahu apa arti dari nama itu?”

“Aku tidak tahu, bisakah kau menjelaskan artinya,” Andre yang baru saja duduk di hadapan ayahnya dan di samping ibunya merasa sedikit keheranan. Terlebih ia merasa sesak di ruangan kecil ini. Ruangan ini semua sisinya dilindungi kayu tanpa cat dan hanya dihiasi satu lukisan pekebunan dan daun jendela yang sedikit terbuka. Mungkin itu yang membuatnya sesak.

“Kalau kau mencari dalam berbagai macam sumber, kau tidak akan menemukan artinya. Nama itu tidak mempunyai definisi yang harfiah”

“Bagaimana bisa ada nama tanpa arti?,” wajah Andre menggambarkan keheranan yang sengaja ia tampilkan di depan ayahnya, merangsang ayahnya untuk menjelaskan lebih lebar lagi.

“Tapi itu cukup jelas berasal dari mana nama itu.”

“Hindia Belanda?,” sebenarnya ia tidak pernah tahu dan pernah mengenal kampung halaman ayahnya. Ia hanya menebak saja sebenarnya tentang topik yang dibuat Ayah nya.

“Ya, tempat itu. Tempatku lahir dan berkembang. Mungkin tidak senyaman di sini. Tapi di sanalah aku pertama kali menghirup udara. Tempat dimana garis keturunanmu berasal dan mungkin saja masih hidup. Karena kau tahu ibumu sudah menjadi yatim piatu sejak lahir, kita tidak tahu siapa nenek-kakekmu. Tapi di sana mungkin saja nenek-kakekmu masih hidup, juga sanak saudaramu,” denging suara ayahnya masuk diresapi seutuhnya oleh Andre, ia merasa dan menyadari tentang sosok di luar sana yang ia tidak kenal dan tidak tahu tinggal sebagai sedarah. Namun belum ia berkomentar, ayahnya meneruskan, “Sebenarnya aku sudah menutup ini lama-lama, karena aku bahagia dan mencintai kalian berdua. Sampai ibumu sakit dan ia memohon padaku. Ia ingin melihat orang tuanya. Maksudnya Ibu dan Bapakku yang berada di negeri nan jauh di sana. Sejak ia kecil, ia ingin sekali mempunyai orang tua dan sekarang hal ini menyentuh hatiku bahwa betapa rindunya aku pada mereka. Dan Apabila mereka masih hidup, kurasa mereka masih menanti kabarku yang tidak kembali ke rumah”

Itu pelik. Cukup alasan bagi Andre untuk tidak berkomentar apa-apa. Sebenarnya ia merasa bingung akan hal itu. Ia hanya terdiam, tertunduk melihat ayahnya yang merindukan tempat dan orang yang masih abstrak di pikirannya.

Malam itu ia terjaga hingga pagi. Pikirannya melayang bimbang kesana-kemari.

Ibunya meninggal lima belas hari setelahnya, istirahat dengan tenang dengan satu cita-cita yang gagal terwujud : tidak pernah bisa menjadi anak berorang tua.

Sejak saat itu ayahku permanen menjadi seorang pemurung. Tuan Thooren sudah tidak pernah tampak lagi mengunjungi ayahku.

***

Leave a Reply