Maulana Akbar

Browsing Tag:

Cerpen

Uncategorized

Jeroan Babi Hans| Part I : Balada Sjam

Jeroan babi digantung-gantung bak tirai di halaman rumah orang betawi. Amisnya mencekik hidung yang hilir mudik, kecuali si tuan  grobak, Hans namanya. Hans adalah generasi ke-tiga yang tinggal di daerah Glodok — pecinan terbesar di  Batavia yang berasal dari kata ‘golodog’, artinya pintu masuk rumah dalam bahasa sunda — dan sejak lahir sudah tinggal di Hindia Belanda. Kakeknya datang ke tanah Batavia setelah Perang Candu di Tanah Tiongkok. Setelahnya ia  ...

Continue Reading

Uncategorized

Hari Paling Bahagia Ke-Tiga

Selamat Bu Flora, hasil diagnosa menunjukkan Anda sudah sehat betul. Anda tidak perlu datang ke sini lagi. Hanya sesekali saja apabila Bu Flora ada keluhan. Kalimat itu menyambutku seperti pecandu judi yang kegirangan mendapat lotre. Dokter Fuad yang selama tiga tahun ini aku temui saban minggu pada akhirnya mengucapkan kalimat itu. Sebenarnya aku sudah pesimis, penyakit ini sepertinya betah di tubuhku, namun ia pergi juga. Ah sungguh tidak sabar untuk mengabari suamiku dan anak-anak.  ...

Continue Reading

Uncategorized

Mak

I  “Mak, apa aku sekarang mesti keluar ? ” “Ya, anakku, kau semestinya begitu.” “Hari ini, mesti kemana kah aku, Mak?” “Perempatan jalan saja atau, bila kau mau, kau bisa di jembatan penyebrangan.” “Lalu bagaimana dengan sekolahku, Mak?” “Sekolah kan ujung-ujungnya buat cari uang. Apa salahnya kau lebih dulu cari uang, bukan?” “Tapi sekarang, aku dengar dari orang-orang yang berbincang, pemerintah telah melarang kita, Mak. Bahkan untuk orang-orang yang memberikan kita uang.” “Mereka  ...

Continue Reading

Uncategorized

Yessi

Yessi menatap Lian. Tak terdengar sepatah kata dari mulut mereka. Itu terjadi selama dua puluh menit. Terdengar suara isak tangis dari mulut Lian. Yessi masih diam. Itu terjadi selama sepuluh menit. Tangis Lian mulai reda. Yessi masih diam. Yessi mundur dua langkah, membalik badan lalu berjalan menuju pintu depan, membuka pintu lalu pergi. Lian menangis lagi, makin keras. Tidak ada Yessi disitu. Yessi dan Lian Banyak persepsi yang membedakan mereka berdua dari berbagai sudut : Dari sudut  ...

Continue Reading

Uncategorized

Head Slices | Part I : Suara Menyayat

Maaf telah kugorok lehermu. Tapi telah kusembunyikan pisauku. Di bawah bantal, biarku bisa bermimpi tentangmu. Aku rindu suaramu yang meronta dan menangis menyayat. Tapi setelah itu kau mati, tak bisa lagi kudengar suaramu. Oleh karenanya, aku membuat dirimu menjadi jamak. Sehingga aku bisa menggorok lehermu yang lain.

Continue Reading

Uncategorized

Vaalseberg

Seorang Pria menatap layu rumah tua di depanya. Entah berapa lama ia berdiri tegap di sana, namun yang pasti matahari sudah mulai turun di balik bukit Vaalserberg – tanah tertinggi di negeri ini. Tangan kasarnya meraba saku di jaket wol lusuh dan menarik arloji yang menggantung di sana, melirik sejenak lalu kembali menatap rumah itu. Kali ini dengan tatapan yang lebih layu. Celana khaki kumal yang tidak dicuci selama berbulan-bulan serta sepatu kulit kedelai melekat mesra di kulitnya.  ...

Continue Reading

Uncategorized

Head Slices II : Norman

Johnny             : Hai Karl kau ingat kejadian kemarin? Karl                   : Ya…. ya.. aku ingat (sambil tertawa cekikikan) Johnny             : Kukira kau sudah lupa karena terlalu mabuk. Sungguh lucu ia tidur tanpa kepala (tertawa melengking)  ...

Continue Reading

Uncategorized

Buah Aneh di Seberang Jalan

Chan memberi tahunya tentang buah aneh di seberang jalan, bila ia makan maka akan sial lah seluruh hidupnya.  Nino tak percaya perkataan Chan, tapi Nino punya ketakutan akan hal itu. Nino punya hasrat untuk makan buah itu bulat-bulat di depan Chan, lalu ia berkata pada Chan “Lihatlah, kau salah. Aku tak menjadi sial memakan buah ini” Tapi ia juga takut apabila ia makan, lalu sial lah sisa hidupnya. Lalu Chan berkata “Lihatlah dirimu, sudahku beri tahu. Kini Sial lah dirimu” Nino tetap  ...

Continue Reading

Uncategorized

Kopi dan Teh

Meja bundar berdiri kokoh bertulangkan rotan dan berlapis kulit dengan cat kusam. Beberapa sudut meja itu dihiasi cat putih dengan kelupasan-kelupasan yang tak teratur. Wajar saja, setengah abad lebih meja itu ada bahkan berdiri kokoh di tempat yang sama, tanpa ada yang berani memindahkanya seinci pun. Bila Tuhan memberikan nyawa dan mulut untuk meja itu, akan banyak cerita dibuat. Terutama tentang sepasang cangkir yang selalu ada sebelum matahari seperempat meninggi. Satu cangkir berisi  ...

Continue Reading

Uncategorized

Turis

Aku  menyapu kursi empuk ini dengan jari-jariku, menghapus debu debu yang ada karena sugestiku. Sebentar lagi pesawat ini akan pergi meninggalkan negeri ini. Sesekali aku melihat ke arah jam rolex ku berharap-harap cemas, sepuluh menit yang menegangkan dalam hidupku. Aku melihat ke luar jendela beberapa orang berseragam mondar mandir seakan-akan mencariku, padahal mereka tersibukan dengan pekerjaannya. Wajahku sebisa mungkin kubuat normal, seperti orang-orang lainya yang akan  ...

Continue Reading