Story

Republik Balaka

Gemerlap ruangan ini tak hentinya oleh blitz kamera wartawan, mengambil momen dari sebuah alur cerita dalam film yang aku buat sendiri. Ya, aku menganggap negaraku ini hanya sebuah layar yang berisi adegan-adegan menyedihkan dengan cara yang dramatis dan diakhiri dengan kemenangan aktor utama. Akulah sutradara dan aktornya.

Pintu tinggi terbuat dari kayu terbaik dari hutan Balaka dengan cat berwarna coklat, tergantung papan bertuliskan :

Mayadi Ratawi, M.H.
Ada

Di dalam ruangan itu, aku duduk dengan gagahnya di kursi mewah berlapiskan kulit hitam. Di depanku, tumpukan kertas dan map yang menunggu coretan tanda tanganku. Satu coretan saja membuat pundi-pundi rekeningku berbuah.

Negara ini adalah negara besar, setidaknya begitu kalau kita lihat dari peta. Republik Balaka, itulah namanya. Dan aku adalah salah satu dari dupilkat orang yang menggerakan negara ini.

Dua tahun lalu ketika aku pertama kali berdiri di ruangan ini menjadi wakil rakyat, aku membawa tujuan dan janji-janji manis untuk rakyat Balaka. Satu hal yang pasti, sebelum itu semua terjadi aku harus memberikan dahulu untuk partaiku, setelahnya adalah keluargaku, kepentingan kerabat, dan terakhir adalah mereka.

Aku adalah aktornya, menjadi superhero yang bisa melakukan apa saja. Salah satu keahlianku adalah membalikkan fakta dan bersilat lidah. Mendekatkan proyek-proyek berduit pada cukong-cukong yang mengisi rekeningku dan menentukan apa yang sesuai dengan kepentinganku. Hebat bukan?

Apabila kau bertanya apakah aku memikirkan masa depan Republik Balaka? Aku akan bertanya balik pada Anda :

“Di dalam perahu besar bobrok berisi emas dan berawak penjahat dan orang baik, apakah kau akan memperbaiki perahu dan berlayar ke tepian? Atau segera mengambil emas sebanyak-sebanyaknya sebelum perahu ini tenggelam dan di gerogoti oleh penjahat-penjahat?”

Kau akan tahu sendiri jawabanku sebelum aku menjawabnya, satu hal yang pasti. Aku adalah duplikat dari teman-temanku di posisi ini. Partai-partai kotor, lebih kotor dari lumpur lantai pasar tradisional yang aku gusur, berisi AKU besar. Begitu pula warna-warna lain di Republik Balaka yang sama denganku.

Dengan sepatu kulit buaya impor, aku berjalan keluar ruangan dengan gagah dan berwibawa, diikuti kamera-kamera yang menyebarkan kabar baik tentang diriku. Saat ini aku pergi untuk menyelesaikan film ini. Menunggu sebuah peristiwa dimana  perahu Balaka tenggelam dan lenyap, dan lihat aku !!! Aku  berada di perahu lain dengan emas-emasmu. Aku tertawa lebar : Ha.. Ha.. Ha.

Leave a Reply