Travel/Culture

Eksotisme Kultur dan Moderinitas China di Ningbo

Negara Republik Rakyat China (RRC) awalnya dalam pandangan saya adalah negara super sibuk dengan polusi dan orang yang berdesakan. Sampah dan limbah — serta bau bahan kimia — tercampur dengan udara debu yang pengap. Pandangan begitu kini banyak berubah.

Dialah Ningbo, sebuah kota peradaban yang sudah terbangun ribuan tahun sebelum Masehi, mengajarkan saya bagaimana sebuah kota peradaban yang kaya akan sejarah dan budaya menghadapi sebuah modernitas. Sebuah kota yang dipenuhi peradaban barat dan tidak semena-mena meninggalkan ketimurannya.

Ketika kami di Indonesia merasa mesti menjadi kota produktif dengan infrastruktur dan isinya serba modern dan wah. Misal pemerintah membangun MRT, monorel, dan kendaraan umum metropolitan. Masyarakat kelas atas membeli mobil luar negeri yang mahal bukan kepalang — atau mobil buatan dalam negeri tapi kepunyaan asing (dibaca: Toyota). Masyarakat menengah dan bawah, minimal punya motor ; yang tak apa hasil kreditan. Masyarakat Ningbo punya intelektualitas dalam hal ini : Martabat mempergunakan produk dalam negeri.

Ningbo memang salah satu kota produktif nan sibuk. Sebagai salah satu pusat industri tekstil, dan pilot  city di China. Ningbo seperti halnya mem-branding diri sendiri sebagai kota yang menjunjung tinggi peradaban. Maklum saja kota ini sudah ada sejak 4000 tahun (atau mungkin lebih) sebelum Masehi. Saya ambil contoh, sentra industri di Indonesia biasanya selalu dihadapkan pada masalah kompleks : kualitas udara rendah, sungai tercemar, kota padat pemukiman. Tapi Ningbo seperti kota baru yang sudah diatur tata kota nya sedemikian rupa.

Sepeda Listrik

Nilai ketimuran begitu kental apabila kita melihat langsung bagaimana masyarakat Ningbo beraktivitas. Entah apa yang kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah lokal, hampir tidak ada motor bensin berlalu-lalang di jalanan Ningbo. yang ada hanya sepeda bermotor kecil bertenaga listrik. Selain senyap, motor listrik pula sangat ramah lingkungan dan hemat energi bumi.

View this post on Instagram

Karena semuanya adalah #madeinchina

A post shared by Maulana Akbar (@mlakbr) on

Yang lebih menarik perhatian saya adalah motor listrik ini diproduksi oleh perusahaan lokal. Memang ini bukanlah hal yang asing, mengingat China punya kekuatan dalam memproduksi segala hal. Tetapi walaupun sentimen terhadap produk China begitu miring di banyak tempat, tetapi dihargai dan digunakan oleh bangsa sendiri.

Keteraturan Masyarakat Ningbo

Walau di sini begitu banyak kuil tua dar berbagai dinasti, Ningbo tidak kehilangan gaya sopan santun dan keteraturannya. Dari sudut ke sudut tidak ada sampah berkeliaran. Orang-orang menyeberang jalan dengan teratur, sesuai dengan marka jalan. Dan sungai yang bersih tanpa bau menyengat. Bahkan polisi lalu lintas tampak tidak banyak beban menghadapi masyarakat Ningbo yang berkendara. Situasi ini mungkin lebih mirip dengan Singapura, tapi tunggu, menurut kenalan saya di sini, Keteraturan ini bahkan di tempat  yang tidak terjamah peraturan, misal di tempat pribadi (bukan publik area). Artinya mereka teratur sudah menjadi budaya, bukan ketakutan atas peraturan yang berlaku.

Selalu ada yang mesti dipelajari. Nusantara sebenarnya memiliki peradaban yang cukup lama juga. Hal yang lebih serupa adalah kita punya adat ‘sopan santun’ yang kental — sama seperti Ningbo. Namun fenomena kini yang tampak adalah adat istiadat itu makin pudar. Opini saya hal itu bisa jadi karena modernitas di negara kita ditelan mentah-mentah, juga adat istiadat kita dibuang cuma-cuma. Seperti halnya Ningbo, budaya lokal yang sudah menjadi peradaban apabila dipadukan dengan modernitas kekinian, akan menjadi sebuah eksotisme tersendiri.

Siapa yang bisa menyangkal modernitas? Tapi semestinya tidak ada yang seharusnya membuang nilai-nilai leluhur kita yang begitu indah.

Leave a Reply