Membedah Sepakbola dengan Angka

Ditulis Oleh Monday, March 16, 2015 Permalink 0

Sepakbola modern dewasa ini sudah berintegrasi dengan banyak subjek. Tidak melulu soal pemain, taktik dan perhitungan menang-kalah, tapi juga subjek lain yang sebelumnya tidak berkaitan dengan sepakbola, salah satunya adalah statistika.

Statistika sendiri adalah ilmu yang mempelajari tentang data, dan mengukur, mengendalikan, dan mengkomunikasikan ketidakpastian (Davidian, M. and Louis, T. A). Bicara tentang ketidakpastian, sepakbola adalah permainan yang memiliki ketidakpastian tinggi. Menang-kalah bukan hal yang mudah dikira, apalagi berbincang tentang masalah skor pertandingan.

Sebelum Statistika diterapkan bagi setiap penganalisa Sepakbola, para penjudi sudah memanfaatkan subjek ini jauh-jauh hari. Mereka memanfaatkan statistika sebagai alat untuk memprediksi kecenderungan – terutama judi bola. Dengan harapan mereka dapat menentukan peluang terbesar untuk memenangkan judi.

Siapakah Klub Sepakbola Terbaik di Indonesia?

Ditulis Oleh Thursday, February 26, 2015 Permalink 2

Menelisik perjalanan sepakbola nusantara sangatlah menarik. Sejarah kompetisi yang begitu panjang, sekitar 84 tahun, mewarnai hiruk-pikuk dunia lapangan hijau. Tidak hanya tentang pemain, klub, dan suporter, melainkan perjalanan sepakbola yang juga menandakan perjalanan panjang besarnya Negara ini – dapat dilihat dalam bebrapa tahun kompetisi dihentikan : Kemerdekaan Indonesia (1944-1947) dan Reformasi (1997/1998).

Secara garis besar, selama waktu itu kompetisi sepakbola di Indonesia dapat dibagi tiga, yaitu Pra-Kemerdekaan (1931-1945), Pasca Kemerdekaan-Amatir (1946-1994), dan Era Modern (1995-hingga kini). Saya menyebutnya tiga zaman persepakbolaan Indonesia. Hal yang membuat liga amatir dibagi menjadi dua karena banyak klub sebelum tahun 1945 banyak yang dimiliki oleh Orang Belanda dan sebagian besar namanya pun masih berbau belanda, seperti VIJ Jakarta (Persija), BVIB (Persib), dan SIVB (Persebaya).

Membangunkan TVRI yang Tidur

Ditulis Oleh Monday, February 23, 2015 Permalink 2

Dulu Bung Karno yang ambisius menyuarakan kejayaan nusantara dengan proyek-proyek yang megah. Asian Games IV yang rencananya akan dilaksanakan di Jakarta pada tahun 1962 menjadi pertaruhan bagi Bung Karno untuk membuktikan pada dunia bahwa negeri yang masih bau pesing ini mampu dan kuat. Namun, apabila berhasil, siapa yang akan menyaksikan Kesuksesan Indonesia? Kurang rasanya momen itu tidak disaksikan pada khalayak banyak. Karenanya, diputuskanlah pembangunan stasiun televisi nasional menjadi proyek penunjang yang diprioritaskan.

Setelah mengudara dengan menyiarkan Asian Games secara langsung, berbondong-bondong lah juragan-juragan dan priyai-priyai membeli pesawat televisi hitam-putih di perkotaan atau pecinan. Sisanya, masyarakat yang entah tidak punya uang untuk membeli atau tidak mengerti untuk apa benda itu sebenarnya, hanya geleng-geleng kepala melihat sebuah kotak mengeluarkan gambar dan suara. Tahun-tahun setelahya televisi menjadi primadona yang menggambarkan tingkat ekenomi seseorang.

Taman Superhero dan Masalah Kota

Ditulis Oleh Wednesday, February 4, 2015 Permalink 1

Anak-anak bermain ayunan dan berlari-lari. Orang-orang yang lebih tua seakan kembali ke masa kanak-kanak karena melihat bocah-bocah sumringah bukan kepalang. Mungkin lebih tepatnya karena kantong mereka tidak terkuras habis seperti mengajak si kecil ke mall. Di sudut lain, pedagang mainan dan Susu KPBS berharap bocah-bocah itu merengek meminta receh pada orang tuanya. Ah sudah lama tidak melihat bandung seperti ini : kebahagiaan yang dibuat gratis.


Namanya Taman Super Hero. Tempatnya diantara Jalan Anggrek dan Jalan Bengawan, Kota Bandung. Sebelumnya tanah seluas 600 m2 persegi ini tidak layak disebut taman. Dulu, saya ingat benar ‘tanah kosong’ ini hanya tempat jalan pintas menuju Jalan Riau. Sedikit orang yang sudi untuk diam sejenak di taman ini, kecuali mereka yang bermain sepak bola dengan gratis.

KPK-Polri ; Pandawa-Kurawa

Ditulis Oleh Saturday, January 24, 2015 , Permalink 1

Setelah gelap menghilang darah seakan-akan air laut pasang, yang merupakan lumpurnya adalah kain perhiasan para pahlawan yang gugur saling bantai, bangkai gajah dan kuda sebagai karangnya dan senjata panah yang bertaburan laksana pandan yang rimbun, sebagai orang menyusun suatu karangan para pahlawan yang tak merasa takut membalas dendam.

Kutipan itu berdengung dari kitab Jawa Kuno berjudul Kakawin Baratayuda karya Empu Sedah tahun 1157 Masehi. Sebuah kisah klimaks dari Mahabrata yang banyak disesuaikan dengan keadaan di nusantara pada saat itu. Peperangan saudara yang mendarah-daging antara Pandawa-Kurawa mengorbankan banyak pahlawan yang saling membunuh.

Diluar setiap babak peperangan yang berangkai, ada yang memudar dari sebab lakon itu dimulai. Sebab yang teramat sederhana untuk sebuah perang besar : Harga diri Keluarga. Hingga peperangan konon sudah akan terjadi sebelum Pandawa-Kurawa lahir.

Agama dan Gama

Ditulis Oleh Monday, January 12, 2015 , , Permalink 2

Ingat, Hanya satu kata saja yang membedakan Agama dan Gama. Huruf ‘A’ yang artinya ‘tidak’

Kolonialisme di bumi nusantara tempo dulu menyisakan banyak hal, kebanyakan sudah tercatat dalam sejarah. Menelisik ke awal pembukaan penjajahan di nusantara melalui VOC (Verenigde Oost Indische Campaigne), dengan slogan Glory, Gold, dan Gospel. Kolonialisme pada waktu itu masih dipengaruhi oleh otoritas gereja, sehingga untuk mencari sumber-sumber gold – sebenarnya lebih banyak mendapatkan sumber rempah-rempah, bukan emas dalam arti sebenarnya – harus diselingi dengan penyebaran keyakinan – kristenisasi. Kekuasaan pun, glory, harus berjalan diantara keduanya, Gold dan Gospel. Namun, seiring berjalan waktu hanya Glory dan Gold saja yang selaras. Kebencian terhadap kesemena-menaan, membuat golongan-golongan di tanah air, banyak juga golongan agama, lebih padu. Terbukti hingga kini sangat sedikit wilayah di Tanah Air yang memiliki penganut kolonialisme dari masa silam.

Aoyama di Indonesia

Seperti pelacur baru : Disetubuhi hingga renta, baru ditinggal.

Seorang kreator cergam — atau cerita bergambar, kini lebih populer disebut dengan komik — asal Jepang menjadi termasyur gara-gara satu karya manga yang bisa disebut legendaris : Detective Conan — Di Amerika populer dengan nama Case Closed.

Setidaknya sudah lebih dari dua dekade cergam berseri ini masih diproduksi. Aoyama Gosho, kreator Detective Conan, nampaknya terlalu bersemangat mengeksplorasi Novel Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle. Selain men-comot nama Conan sebagai nama tokoh utama di cergam Detective Conan, ada juga nama jalan Baker Street di Sherlock Holmes, diterjemahkan menjadi Beika di cergam Detective Conan. Hal yang menarik cerita Detective Conan akan jauh lebih panjang dan liar dibandingkan dengan resensinya.

Hari Paling Bahagia Ke-Tiga

Ditulis Oleh Tuesday, January 6, 2015 No tags Permalink 3
Selamat Bu Flora, hasil diagnosa menunjukan anda sudah sehat betul. Anda tidak perlu datang ke sini lagi. Hanya sesekali saja apabila Bu Flora ada keluhan.

Kalimat itu menyambutku seperti pecandu judi yang kegirangan mendapat lotere. Dokter Fuad yang selama tiga tahun ini aku temui saban minggu pada akhirnya mengucapkan kalimat itu. Sebenarnya aku sudah pesimis, penyakit ini sepertinya betah di tubuhku, namun ia pergi juga. Ah sungguh tidak sabar untuk mengabari suamiku dan anak-anak. Mereka pasti senang ibu mereka kembali lincah

.

Contracted : Cerita Sebelum Cerita Dimulai

Ditulis Oleh Monday, January 5, 2015 , Permalink 1

Jodi Bieber, seorang fotografer dari tanah Afrika, mendapatkan perhatian khalayak ketika memotret Bibi Aisha, yang juga menjadi cover Majalah Time pada Bulan Maret 2010. Bibi Aisha tidak sepantasnya cocok bercokol di Majalah populer tersebut karena ia tidak berhidung — dipotong dengan sengaja oleh suaminya — dan berparas biasa saja, namun Jodi Bieber paham benar untuk mengangkat kisah ini menjadi perhatian khalayak. Efeknya, karena mendapatkan perhatian dunia, Bibi Aisha mendapatkan operasi plastik gratis pada tahun 2012. Hal tersebut hanya berawal dari sebuah foto.

Kekerasan di Afganistan sudah menjadi biasa, terutama bagi kaum perempuan, namun hal biasa ini bisa diangkat menjadi outstanding dengan cara yang tepat. Jodi Bieber sudah membuktikanya dengan memberikan sebuah foto yang mempengaruhi siapapun yang melihatnya. Mereka, orang yang melihat fotonya, akan memproses sebuah ceritanya masing-masing tentang Bibi Aisha.

Mencampaikan sebuah pesan dengan cara yang berbeda tidak hanya dalam dunia fotografi, namun banyak pula dalam materi perfilman, Christoper Nolan misalnya. Namun saya tidak akan membahas tentang beliau, karena karyanya sudah terlalu kadung terkenal. Saya akan mencoba menyampaikan sebuah film yang merupakan ide klasik namun disuguhkan dengan cara yang tidak biasa, yaitu Contracted. Sebuah film karya Eric England.

Ketika harga bahan bakar melonjak kau memaksa tarif segera turut terbang. Namun ketika harga turun, kau diam kelu. Ah, dasar mangkar!

— Maulana Akbar

Jakarta Itu, Dek !

Ditulis Oleh Monday, January 5, 2015 Permalink 1

Dek, cita-citamu itu Dek.
Ulah tivi sialan itu, kau hendak ke Jakarta.
Iya. Itu cita-cita mu Dek.
Di balik layar itu katanya mudah kaya raya.
Di balik layar itu mereka cantik-tampan rupawan.
Ah, aku tertipu jua Dek.
Membiarkanmu memecahkan kendi uangmu selama ini. Berapa tahun kau simpan uang itu?
Aku lupa Dek. Maafkan aku.

Aku ingat langkahmu itu, yang kulihat semakin mengecil dan menghilang. Aku sudah merasa saat itulah aku jumpa dirimu Dek.
Juga senyumanmu itu Dek. Penuh harapan dan berapi-api. Berharap dua tahun lagi kau kembali bawa dongeng bahagia, yang bikin Emak-Bapak senyum.
Tapi Emak sakit, lalu meninggal di beranda. Ulah Jakarta Dek. Ia memikirkanmu terus yang ditelan Jakarta.
Lalu Bapak rupanya sudah tidak bersemangat ke ladang. Diam-diam di tengah hari ia menangis pula mengingatmu Dek.

Ingat ucapanmu yang ini, Dek ?

Emak dan Bapak tau usah risau padaku. Aku merantau untuk menggapai cita-citaku. Lebaran ke dua dari sekarang aku pasti tiba. Aku janji.

Aku tahu kau terpaksa berjanji karena Emak menangis terus. Kau ingin menenangkan hatinya yang rapuh, bukan?
Tapi kau mengingkarinya Dek?
Bukankah ini lebaran ke-lima?
Lalu belum lebaran ke-enam, si Jarwo, anak tetangga yang sudah sepuluh tahun merantau, mengabarkan kabar duka itu. Kau, Dek, sudah mati berkalang tanah. Dipukuli preman-preman terminal. Hati Emak Bapak hancur Dek. Aku jua.

Hingga saat ini layar itu masih berbohong. Tidak bercerita tentang kau yang mati di terminal itu Dek.
Ah masih saja tentang kenikmatan dan hura-hura.
Tempo hari Si Ramdi, tetangga kita, memecahkan kendi pula. Ia hendak ke Jakarta. Ah Ramdi yang malang.

Jeroan Babi Hans / Bagian I : Balada Sjam

Ditulis Oleh Tuesday, December 23, 2014 , Permalink 1
Jeroan babi digantung-gantung bak tirai di halaman rumah orang betawi. Amisnya mencekik hidung yang hilir mudik, kecuali si tuan grobak, Hans namanya.

Hans adalah generasi ke-tiga yang tinggal di daerah Glodok — pecinan terbesar di Batavia yang berasal dari kata ‘golodog’, artinya pintu masuk rumah dalam bahasa sunda — dan sejak lahir sudah tinggal di Hindia Belanda. Kakeknya datang ke tanah Batavia setelah Perang Candu di Tanah Tiongkok. Setelahnya ia menetap dan membangun kerajaan disini, diantara berkuasanya pedagang-pedagang Arab dan sisa-sisa kerajaan Sunda Kelapa. Namun, hingga kakeknya meninggal setahun yang lalu, ia tidak pernah melihat Tanah Tiongkok, hanya saja ia diwarisi cerita, keyakinan, bahasa, dan wajah asli Tiongkok. Olah karenanya, ia akan melanjutkan misi sang Kakek : menjual jeroan Babi.