Senyum Wanuarti

Ditulis Oleh Wednesday, November 19, 2014 No tags Permalink 0

Wanuarti, seorang wanita setengah baya. Tubuhnya bongsor seperti bakul lemak. Aku mengenalnya semenjak ku mengenal buana. Selama itu, lebih dari dua puluh tahun, hidupnya selalu nestapa.

Pertama, ketika ia belia, lebih dari dua puluh tahun lalu, ia bukanlah orang yang cerdas. Malah mungkin, kecerdasanya tidak sama dengan orang kebanyakan. Aku sempat bertanya pada orang tuanya, apakah Wanuarti tidak diberikan gizi yang cukup. Itu bisa jadi, karena pada waktu itu orang tua Wanurti tidak berkecukupan.

Pendusta

Ditulis Oleh Sunday, November 16, 2014 No tags Permalink 0

Ketika Dewa menurunkan tuturan, saat itu kami merunduk.

Sabda berubah dari mulut ke mulut, hingga kami skeptis.

Dewa menurunkan kembali tuturan baru.

Sebagian dari kami menyangkal, karena penjaga kuil itu akan kehilangan pemberian.

Akhirnya tuturan itu adalah lading gandumnya.

Ia sedikit memindai untuk menghisapkan padanya umur yang lebih panjang.

Penjaga kuil itu, yang mendustai khalayak, meyakinkan saudara-saudara kami.

Hingga saudara kami itu menjajakan ayat-ayat sakral di pinggir jalan.

Bersembunyi di bawah tanah lalu memotong lehernya sendiri.

Menginjak-injak kitab sakral lalu menjajakan pada kami.

“Kau perlu ini. Kita perlu ini. Agar kita Selamat,” Ujar saudara-saudara kami.

Tapi kami putus akal. Gandum-gandum itu berasal dari ladang siapa?

Bukankah kuil mulai sepi?

Bukankah penjaga kuil itu sudah hilang hayat?

Tapi mengapa kalian tetap menjajakan kitab dusta itu.

Aku bisa saja mengirim tembang ini padamu, saudara-saudaraku.

Tapi pasti kau mengirimkanya kembali. Lalu berucap.

“Bukanya ini untukmu sendiri.”

“Punyamu yang Dusta. Punyamu !”

Baiklah. Kita akhiri saja.

Tapi berhentilah menjajakan kitab sakral itu di pinggir jalan.

Topik di Atas Meja Kopi : Statistika Unpad

Ditulis Oleh Sunday, November 2, 2014 , Permalink 0

Mahasiswa Statistika Unpad pasti tahu bagaimana buku Metoda Statistika, karangan Prof. Sudjana, seperti sebuah kitab penting ketika mahasiswa pertama kali menginjak kampus. Bukunya biasa saja, tapi bagi seoang awam – terutama anak SMA yang baru lulus kuliah – akan merasa membaca buku tebal berbahasa jepang dengan karakter kanji. Terlebih-lebih buku itu berada pada mata kuliah yang diajarkan oleh Ibu Titi Ngadiman, seorang Dosen Senior yang sudah lewat masa pensiun, yang mempunyai gaya mengajar konvensional, keras, dan terkesan diktator. Pada saat itu, semua orang benci berada di kelas itu, tapi akan merindukanya ketika tahun-tahun setelahnya.

Persib-Arema yang Bikin si Tuan Pusing

Ditulis Oleh Saturday, November 1, 2014 , Permalink 0

Baru baru ini PT. Liga Indonesia memindahkan venue semifinal Indonesia Super League dari Stadion GBK Jakarta ke Stadion Jakabaring Palembang. Dikutip dari lensaindonesia.com, dalam surat yang diterbitkan PSSI tidak disebutkan alasan kepindahan venue pertandingan puncak tersebut, hanya saja, masih dalam surat tersebut, disinggung karena alasan koordinasi dengan pihak kepolisian. Namun dugaan kuat disinyalir karena perdamaian supporter Viking-The Jakmania belum adem benar ditambah penolakan dari pihak The Jakmania secara terang-terangan dengan alasan serupa.

Peran Strategis Ombudsman RI Dalam Pengawasan Pelayanan Publik

Ditulis Oleh Wednesday, October 8, 2014 No tags Permalink 0

Hans Kelsen nampaknya lebih dulu tahu tentang kedudukan masyarakat dalam sistem pemerintahan presidensial. Dalam bukunya yang berjudul General Theory of law and State, filsuf dan ahli hukum asal Austria ini pernah menyebut parlemen yang menetapkan undang-undang, dan warga negara yang memilihnya secara langsung, merupakan organ sebuah negara dalam arti luas.

Sarit

Ditulis Oleh Saturday, September 13, 2014 , , Permalink 0

Nangui tengik tersaji siap disantap.
Dikelilingi tiga buyung lapar-lapar.
“Santap ini saja. Hanya ini yang ibu punya,” Katanya.
Tiga buyung makan lahap sambil cekikikan.

Ini bukan tentang tidak ada uang lalu sarit.
Mungkin ini faedah untuk jemaat.
Jikalau Kau berbenda harus memberi.
Bukan berbenda lalu dilahap.

Tiga buyung itu tidak memilih menjadi anak si ibu.
Tapi mereka punya pilihan untuk memperbaikinya.
Mirip temanku, iwan, kadang bacin kadang berfaedah.
Ia memilih. Bukan Suratan.

Biarkan aku bermain.
Merasakan jadi buyung sarit.
Tapi biarkan pula, Tuhan, untuk berfaedah.
Karena aku ingin kesempatan itu.
Karena Nengui itu haram. Sarit pula.
Apabila kau ijinkan, aku akan membakar Nengui itu.
Lalu memanaskan tungku untuk ikan bakar yang sedap.

Masih Merah, 14-09-2014.

Stereoview : Orang Bandung Tahun 1902

Ditulis Oleh Wednesday, September 10, 2014 No tags Permalink 1

Barang antik berupa Photo Art Stereview ini diambil sekitar tahun 1902 di satu jalan, yang tidak disebutkan tepatnya, di Bandung. Berumur lebih dari 110 tahun, foto ini menggambarkan Bandung tempo dulu yang waas. Jalanan tanah tanpa aspal dipagari pohon-pohon tinggi di sisi jalan dan dihiasi gubuk-gubuk khas Jawa Barat yang jarang, pastinya membuat siapa saja yang melihatnya merindukan Bandung dulu.

Mimpi Pukul 3.15

Ditulis Oleh Wednesday, September 10, 2014 No tags Permalink 0

Dalam bayanganku, ada beberapa bayangan menyeramkan seperti anak kecil dalam film Ju-On. Anak kecil dengan wajah Asia berkulit putih tulang, seperti ditaburi bedak saripohatji sebanyak tiga bungkus seharga lima puluh perak pada tahun 1980an. Ia menengok lantas menatap gidik mataku. Ia tidak bertutur atau mengoceh. Aku berharap kalau ia adalah Jibril yang turun dan memberikan sabda. Tapi ternyata bukan.

Teguh yang Gundah Gulana

Ditulis Oleh Monday, August 18, 2014 Permalink 0

Teguh ini sudah saya kenal sejak tujuh tahun yang lalu. Di satu sisi ia adalah teman yang menyebalkan, disisi lain ia adalah yang dirindukan. Terlalu atraktif, mungkin sebabnya. Semenjak lulus dari Statistika Unpad, Ia melanjutkan usaha keluarga di Kalimantan. Sedangkan kami, teman-teman kuliahnya, berkutat di Jakarta atau Bandung untuk mengejar karir – juga kepentingan duniawi masing-masing.

In Time : Kebangkitan Istana Sulaiman

Ditulis Oleh Monday, August 11, 2014 , Permalink 0

Ketika New World Order menguasai setiap sendi kehidupan masyarakat dunia, saat itu kaum yang bergerak di bawah bukan hanya membangun bangunan fisik Salomon Tample, tapi istana kasat mata yang mengatur dunia dalam satu genggaman. Saat ini kita sudah merasakanya, bukan takhayul, tapi saya selalu menyimpan hal untuk mencurigai sesuatu. Berdasarkan dari keterpurukan bangsa-bangsa kecil, kecurangan di depan mata yang dilegalkan, peperangan yang dibiarkan, kekuasaan yang immortal, dan hal-hal lain yang membuat bangsa kita terlalu kecil untuk menjadi penguasa. Hal-hal itu adalah hal-hal nyata bahwa manusia-manusia itu jahat. Apabila kaum kita pintar dan berkuasa, bukan berarti kita seperti mereka pula : menguasai bangsa-bangsa kecil, serakah, keji, dan angkuh.