Sarit

Ditulis Oleh Saturday, September 13, 2014 , , Permalink 0

Nangui tengik tersaji siap disantap.
Dikelilingi tiga buyung lapar-lapar.
“Santap ini saja. Hanya ini yang ibu punya,” Katanya.
Tiga buyung makan lahap sambil cekikikan.

Ini bukan tentang tidak ada uang lalu sarit.
Mungkin ini faedah untuk jemaat.
Jikalau Kau berbenda harus memberi.
Bukan berbenda lalu dilahap.

Tiga buyung itu tidak memilih menjadi anak si ibu.
Tapi mereka punya pilihan untuk memperbaikinya.
Mirip temanku, iwan, kadang bacin kadang berfaedah.
Ia memilih. Bukan Suratan.

Biarkan aku bermain.
Merasakan jadi buyung sarit.
Tapi biarkan pula, Tuhan, untuk berfaedah.
Karena aku ingin kesempatan itu.
Karena Nengui itu haram. Sarit pula.
Apabila kau ijinkan, aku akan membakar Nengui itu.
Lalu memanaskan tungku untuk ikan bakar yang sedap.

Masih Merah, 14-09-2014.

Stereoview : Orang Bandung Tahun 1902

Ditulis Oleh Wednesday, September 10, 2014 No tags Permalink 1

Barang antik berupa Photo Art Stereview ini diambil sekitar tahun 1902 di satu jalan, yang tidak disebutkan tepatnya, di Bandung. Berumur lebih dari 110 tahun, foto ini menggambarkan Bandung tempo dulu yang waas. Jalanan tanah tanpa aspal dipagari pohon-pohon tinggi di sisi jalan dan dihiasi gubuk-gubuk khas Jawa Barat yang jarang, pastinya membuat siapa saja yang melihatnya merindukan Bandung dulu.

Mimpi Pukul 3.15

Ditulis Oleh Wednesday, September 10, 2014 No tags Permalink 0

Dalam bayanganku, ada beberapa bayangan menyeramkan seperti anak kecil dalam film Ju-On. Anak kecil dengan wajah Asia berkulit putih tulang, seperti ditaburi bedak saripohatji sebanyak tiga bungkus seharga lima puluh perak pada tahun 1980an. Ia menengok lantas menatap gidik mataku. Ia tidak bertutur atau mengoceh. Aku berharap kalau ia adalah Jibril yang turun dan memberikan sabda. Tapi ternyata bukan.

Teguh yang Gundah Gulana

Ditulis Oleh Monday, August 18, 2014 Permalink 0

Teguh ini sudah saya kenal sejak tujuh tahun yang lalu. Di satu sisi ia adalah teman yang menyebalkan, disisi lain ia adalah yang dirindukan. Terlalu atraktif, mungkin sebabnya. Semenjak lulus dari Statistika Unpad, Ia melanjutkan usaha keluarga di Kalimantan. Sedangkan kami, teman-teman kuliahnya, berkutat di Jakarta atau Bandung untuk mengejar karir – juga kepentingan duniawi masing-masing.

In Time : Kebangkitan Istana Sulaiman

Ditulis Oleh Monday, August 11, 2014 , Permalink 0

Ketika New World Order menguasai setiap sendi kehidupan masyarakat dunia, saat itu kaum yang bergerak di bawah bukan hanya membangun bangunan fisik Salomon Tample, tapi istana kasat mata yang mengatur dunia dalam satu genggaman. Saat ini kita sudah merasakanya, bukan takhayul, tapi saya selalu menyimpan hal untuk mencurigai sesuatu. Berdasarkan dari keterpurukan bangsa-bangsa kecil, kecurangan di depan mata yang dilegalkan, peperangan yang dibiarkan, kekuasaan yang immortal, dan hal-hal lain yang membuat bangsa kita terlalu kecil untuk menjadi penguasa. Hal-hal itu adalah hal-hal nyata bahwa manusia-manusia itu jahat. Apabila kaum kita pintar dan berkuasa, bukan berarti kita seperti mereka pula : menguasai bangsa-bangsa kecil, serakah, keji, dan angkuh.

Bring me back to 90`s

Ditulis Oleh Monday, August 4, 2014 No tags Permalink 0

This Feeling. When I listen this sound, I sorely rolling back to the 90`s. When I was kid, I often sat more than an hours for watching ‘dubbed’ japanese anime. I just have saw this video on youtube and immediately write this article.

Actually, all edited music video of Eka Gustiwana, before this one, never make me impressed. And today I`m Highly Apreciated for this one. Chibi Maruko Chan, P-Man, Hamtaro, dr. Slump, Sailor Moon, Saint Seiya, Inuyasha, Detective Conan, and Kobo Chan are my childhood heroes.

Yorias dan Yehwa

Ditulis Oleh Wednesday, July 30, 2014 No tags Permalink 0

Yorias besama Yehwa.

Memuja dan menangisi kebesaran yang hancur lebur. Kebesaran yang hanya tersisi dinding-dinding rapuh.

Yorias menusuk Yehwa. Di ruangan tiga kali empat meter.

Yehwa kini hanya seonggok mayat. Lalu bangkit dan murka.

Dari sisa-sisa tenaganya, ia memuntahkan apa yang ia punya. Menyerang Yorias tanpa jeda.

Kini, Yehwa berdiri di kepala Yorias yang badanya entah kemana.

Bayi Merah

Ditulis Oleh Wednesday, July 30, 2014 Permalink 0

Bayi merah yang menjadi pelacur esok siang.

Berharap Mary Shelley tidak membuat cerita itu.

Memburu sang pencipta.

Hingga merasakan apa yang ia timpa.

Karena itu tidak mungkin. Monster Frankenstein hanya buruk rupa. Bukan Pelacur. Hanya Serupa.

Mereka tercipta untuk membenci bayangan dalam cermin.

Dendam Kesumat

Ditulis Oleh Monday, July 21, 2014 Permalink 0
Ingatlah di Madiun. Betapa buas nya PKI yang membantai dan menistakan tempat ibadah kita.
Ingat juga setelahnya – tahun-tahun sesudahya – pemerintah, masyarakat, tentara, dan kaum agamis turut membantai PKI habis-habisan. Bahkan mereka yang cuma dikira. Setelahnya pun anak-cucu mereka ‘diborgol’.
Ingatlah betapa durjana nya orang Tiongkok itu : merebut tanah kita, memperbudak orang kita, dan menghisap Harta kita.
Ingatkah kita berapa banyak kita membantai, memperkosa, membakar rumah mereka ? Geger Pecinan, Mangkok Merah, Pembantaian Glogok, Kerusuhan 1998, dan nama-nama lainya yang sudah menjadi sejarah. Apakah kita ingat?

Yessi dan Lian

Ditulis Oleh Sunday, July 20, 2014 No tags Permalink 0

Yessi menatap Lian. Tak terdengar sepatah kata dari mulut mereka. Itu terjadi selama dua puluh menit.

Terdengar suara isak tangis dari mulut Lian. Yessi masih diam. Itu terjadi selama sepuluh menit.

Tangis Lian mulai reda. Yessi masih diam. Yessi mundur dua langkah, membalik badan lalu berjalan menuju pintu depan, membuka pintu lalu pergi.

Lian menangis lagi, makin keras. Tidak ada Yessi disitu.

Bakuto

Ditulis Oleh Tuesday, July 15, 2014 Permalink 0

Saya sih tidak akan memojokan pihak manapun. Tulisan ini bukan juga sebuah surat terbuka – seperti yang ditulis banyak seniman ibu kota – untuk pihak manapun. Hanya saja, saya menulis ini karena jari-jari saya menginginkanya. Perlu di ingat, jari-jari saya tidak berkempentingan dalam hal ini. Dia jujur.

Head Slices | Part III : Kepala Pertama

Ditulis Oleh Sunday, July 13, 2014 , Permalink 0

Kelas Tujuh Berisi dua belas siswa-siswi. Suasana ruanganya dingin dan serba kayu. Kursi, Meja, Lantai, dan dindingnya terbuat dari kayu. Di sisi samping kiri, ada dua buah meja yang menghadap langsung ke halaman sekolah. Di sisi lainya, terdapat pintu menuju lorong sekolah yang di sampingnya terdapat lukisan cat minyak berlukiskan Jimmy Carter, atau lebih tepatnya sosok yang mirip Jimmy Carter karena di lukisan itu Jimmy Carter mempunyai senyuman yang terlalu manis dan feminim.