Maulana Akbar

Browsing Tag:

Puisi

Short Story, Story

Bunuh Diri

Sepulang sekolah, diatap sekolah. Setinggi sekitar lima lantai. Sekitar tiga detik untuk terjun sampai memeluk beton dibawah sana. Air mata yang habis dikuras. Sel-sel otak lapuk yang tak mampu berfikir. Sepatu hanya sekitar dua mili untuk tidak menginjak apapun. Badan yang lunglai ini tiada daya diterpa angin. Dan terjun bebas. Tiga detik itu ternyata tidak secepat itu. Tinggi sudah kebencian terhadap Mas Agung yang mengabaikan dan hilang entah kemana. Kuteriak atas perundungan dari orang  ...

Continue Reading

Poem, Story

Sepotong Foto Munir di Saku Celana

Terselip sepotong foto Munir tertinggal di saku celana Teracuhkan bersama bon-bon hasil beli ini itu. Cukup nanti lengah tercuci Foto yang sepotong itu basah dan payah. Pula dilalaikan pula Sampai terjemur di atap rumah. Sepotong foto itu rapuh dan ringkih. Kesudahanya foto itu hancur lebur, tertimbung onggokan bon ini itu. Sydney, 28 Maret 2018

Continue Reading

Uncategorized

Jorn Jorn

Blestyer Jorn Jorn. Bagaimana esok, Jorn. Mari hisap setitik air, Jorn. Meresap sebuah cita. Rajut sebuah cerita. Sampai nanti, dimulai esok, Jorn.   Mungkin begini lah rasanya, Jorn. Campur aduk, selalu saja ada obstruksi. Sampai sukar mendengkur. Kamu jua pasti. Tapi pura-pura sungkup.   Berapa jam lagi, Jorn Berapa detik lagi, Jorn Jorn, Jorn. Bagaimana esok

Continue Reading

Uncategorized

Pekan Terkahir Buat si Perjaka

Tepat didetik ini pekan depan aku akan berdiri disampangnya. Menatap banyak tamu hilir mudik. Ada keluarga, teman kerja, teman kampus. Aku memegang erat tangganya beberapa saat, membayangkan betapa bahagianya dia. Delapan tahun itu lama, iya, dan dua jam nanti pastinya akan terasa lama juga. Cepat datang. Hari itu. Cepat. Aku tak sabar menjadi suaminya. Biarkan aku korbankan pekan terakhir sebagai perjaka dalam hidupku.

Continue Reading

Uncategorized

Edelweiss

Matahari datanglah. Hangati Kami. Datanglah melalui celah-celah edelweiss di tanah surya kencana. Hangati  tubuh kami yang kedinginan. Hibur kami, dengan jiwa yang kesepian. Ampunilah kami. Rumput yang basah, embun yang dingin, kini merajai kami. Siapa pun gerangan kami, di sini hanya pion. Lemah selemah-lemahnya. Tunduk pada aturan alam. Hangati kami, matahari. Gunung Gede,  1 Mei 2016

Continue Reading

Uncategorized

Padi Merunduk karena Mabuk

Pangkal kuat karena mengakar; Maslahat arang adalah terbakar; Bunga elok karena bermekar; Kami padu  karena mangkar; Kami kuat karena tunduk Kami adalah padi Padi yang merunduk karena mabuk Demi Sjahrir yang berjalan di salju Zurich Menunggu dua anaknya pulang dari sekolah Apabila di tengah denai ada yang bertanya : apakah ada merah putih didadamu? Ia tidak akan berucap – hanya tersenyum,  lantas merelakan tubuhnya mati membeku di negeri orang. Demi Tan yang selalu duduk di balik  ...

Continue Reading

Uncategorized

Apabila Tuan Rindu

Apabila Tuan rindu, janganlah datang ke Jakarta. Pergilah bersamaku melihat Nusantara. Sawah. Kebun. Apabila Tuan rindu, janganlah diam di daratan. Tanah kita adalah air. Berlayarlah bersamaku  melihat khatulistiwa. Surga. Jamrud. Tuan-Tuan sebelum Tuan adalah pelaut. Ada sebahagian Petani. Rindukah tuan? Penuh sesak di Ibukota.  Hidup di Ibukota. Cari duit di ibukota. Tengok lah, Tuan, tentang  bagian lain. Aku rindu, Tuan. Masih adakah anak bermain suling di atas kerbau?  ...

Continue Reading

Uncategorized

Jadi Tua

Jadi tua itu mengesalkan : Badan sakit-sakitan, kulit keriput, daya ingat payah. Apalagi apabila tingkah laku sudah seperti kanak-kanak : ngompol dicelana, menangis dan meracau karena hal sepele. Anak kecil sih lucu, nah ini. Jadi tua itu jadi beban anak-anaknya, diomeli tiap saat. Sampai anak-anaknya bertanya, kapan kau berkalang tanah saja. Di hati yang terdalam, si tua masih merasa. Kidung indah tentang kasih sayang. Pada saat anak-anaknya kecil dulu, ia tidak pernah risau. Si anak  ...

Continue Reading

Uncategorized

Suara Siti

Seperti Siti yang seorang Insinyur bangunan itu, yang menjadi pelatih balet di kelas tari kanak-kanak. Meninggalkan gelar dan tumpukan buku sains demi getaran hati dengungan passion. Aku tidak mengenalnya, tapi merasakan risau orang tuanya. Mereka keheranan, mungkin. “Sekolah setinggi-tingginya lalu banting setir setelahnya.” Suaranya. Suaranya seperti satu muara. Tidaklah benar Situ biangnya. Ia benar, menurutku. Tapi siapa yang mampu mendobrak isi hati Siti? Lalu terkagum-kagum dengan  ...

Continue Reading