Story

Puisi Taik

Teruntuk  taik yang kubuang tiap hari.

Berwarna kuning dan hangat dipagi hari.

Aku tidak mengerti mengapa kau selalu gelisah dipagi hari.

Membuatku berurusan denganmu dengan jadwal yang rutin.

Tapi ini rahasia taik, kita seperti pengantin baru.

Apabila aku berurusan dengan mu, kuyakinkan hanya kita berdua saja.

Begitu nistakah dirimu, hingga aku sangat malu bila ada kau di celana dalamku.

Begitu ajaibkah dirimu, hingga teman-temanku tahu apabila ada kau di celana dalamku.

Aku yakin kau tidak bisa bersembunyi  karena aku bisa mengetahuimu dari  harum mu.

 

Aku merasa lega setelah berurusan denganmu.

Aku merasa kecewa apabila kau menempel di sepatuku.

Oh taik, sebenarnya aku masih bingung denganmu.

 

 

Januari 2002.

*Untuk tugas pelajran bahasa Indonesia yang urung diberikan pada guru.

Leave a Reply