Story

Catatan Kecil Menjadi Menjadi Penelliti : Dikfung Peneliti Gel. VI

Ini bukan sekadar menemukan masalah dan mencarikan solusi. Bukan pula melihat isu yang menarik lalu segera menulis paper. Profesi Peneliti yang terpikir olehku adalah Habibie dengan jas lab sedang  mengukur ekor pesawat yang dinaiki oleh Einstein yang sedang mengaduk-aduk bahan kimia. Sebuah pekerjaan yang penuh dengan hal sistematis dan kaidah-kaidah ilmiah. Memang benar sih.  Namun setelah mengikuti diklat peneliti, ternyata ada setitik cahaya : perubahan dalam kegersangan.  Perubahan paradigma yang sudah tertanam dalam otaku.

 

Mungkin aku terlalu melankolis melihat ritual wajib yang formal untuk menjadi peneliti pemerintahan di Indonesia. Diklat Fungsional Peneliti adalah hal yang baku dan membosankan, pada dasarnya. Tapi aku melihat dari sisi lain : pemikiran orang-orang muda yang meletup.  Pemikiran anak-anak muda ini merubah cara berpikirku.  Padahal kuyakin mereka tanpa sadar hanya berfikir apa yang mereka mau, berbicara sesuai apa yang ada diotak mereka, dan berdiskusi mengalir begitu saja.

 

Bergabung di Diklat Fungsional Peneliti Tingkat Pertama Gelombang VI di Pusbindiklat Peneliti LIPI bersama mereka sungguh mengesankan. Ada hal penting mengapa aku berpendapat demikian. Pertama, walaupun gesture mereka memang sudah terlihat pintar – dan memang pintar, separuh adalah master dan beberapa lulusan luar negeri – namun mereka selalu low profile, tidak angkuh, tidak egois, namun tetap gemar membagi ilmu. Malahan mereka melebihi sifat peneliti yang mestinya serius : gila, lucu, membaur, dan menularkan suasana menyenangkan.  Mirip apa yang diungkap Harvey Deutschendorf [1] dalam artikel yang berjudul “7 Habits of Highly Emotionally Intelligent People” : one of habits that people with high EI is THEY LOOK FOR WAYS TO MAKE LIFE MORE FUN, HAPPY, AND INTERESTING.

 

Image Pegawai Negeri Sipil (PNS) biasanya tidak begitu bagus. Namun ada niatam tulus dari rekan-rekan ini untuk menjadi abdi negara yang baik. Topik-topik how to grows this country selalu muncul dimeja makan kami, pagi,  siang, dan malam hari. Ide-ide mereka untuk memperbaiki negeri ini, konteks sebagai peneliti, juga mengesankan. Itu adalah alasan kedua.

 

Terakhir adalah virus. Virus untuk mempengaruhi orang. Virus untuk mempengaruhi orang untuk berkembang dengan baik. Lebih spesifik : jadi peneliti yang jujur. Manusia yang jujur. Sesederhana itu. Menjadi “peneliti boleh saja salah, tapi jangan bohong, ” itulah slogan kami. Jujur. Sekali lagi, jujur.

 

Harapan terbesar kami selalu sama, semoga kami bisa konsisten memiliki prinsip ini. Tidak usang berjalanya waktu. Tidak dilupakan karena sudah jadi pejabat A atau profesor B. Tapi kami punya modal besar untuk mewujudkan harapan kami, yaitu kami masih punya virus. Banyak virus untuk tetap mengingatkan, meluruskan satu sama lain.

 

[1]  http://www.fastcompany.com/3028712/7-habits-of-highly-emotionally-intelligent-people

 

 

Leave a Reply