Science & Technology

[Lecture Points SOC811W2] Titmuss and Esping-Andersen

Richard Titmuss (1907-1973)

Richard Titmuss adalah anak dari seorang petani. Ia meninggalkan sekolah pada umur 14 tahun. Titmuss belajar menjadi pustakawan di sekolah lokal. Setelah bertugas sebagai office boy, ia menjadi pegawai di kantor asuransi. Dia memegang pekerjaan penuh waktu di asuransi swasta selama 16 tahun.

Pada tahun 1930an, Titmuss tertarik pada masalah sosial dan politik. Pada tahun 1939, dia menulis dua buah buku dan artikel. Tahun 1941, Titmuss diundang untuk bekerja pada sebuah pelayanan sosial resmi tentang sejarah masa perang. Tahu 1950, setelah publikasi The Problems of Social Policy, Titmuss menjadi profesor pertama dalam sosial adinistrasi di LSE dan menghabiskan sisa hidupnya disana

Beberapa Publikasi Titmuss



Pendekatan Titmuss

Titmus dipertimbangkan sebagai salah satu pendiri dari penelitian kebijakan sosial dan penelitian comparative welfare state. Titmuss menyoroti perbedaan bentuk dari kebijakan sosial dan prinsip-prinsip sebagai fondasi welfare states dalam dua buah kerangka pikir. The social division of walfare memperluas ruang lingkup dari kebijakan sosial:

  • social atau welfare state
  • occupational welfare
  • fiscal welfare

Titmuss: Social Division of Welfare

Titmuss (1958) paper dalam divisi sosial welfare membahas cangkupan dari penelitian kebijakan sosial. Dia khawatir tentang debat-debat tentang kebijakan sosial yang terlalu banyak berfokus pada kritik benefit yang diterima oleh orang miskan dan melebihkan redistribusi oleh negara

The definition, for most purposes, of what is a ‘social service’ should take its stand on aims, not on the administrative methods and institutional devices employed to achieve them

Titmuss 1958: 63

Titmuss mengerti bahwa welfare terdiri dari intervensi kolektif yang bertujuan memenuhi kebutuhan yang diakui secara sosial, daripada mengandalkan pada jenis intervensi kebijakan. Ia membedakan antara tiga kategori utama kesejahteraan yang ia lihat sebagai “secara bersamaan memperbesar dan mengkonsolidasikan bidang ketimpangan sosial”

Titmuss: State or Social Welfare

Melibatkan negara secara langsung memberikan manfaat kepada orang-orang yang memenuhi syarat atau memberi mereka layanan publik. Pengeluaran sosial ini berfungsi sebagai fokus dari banyak literatur kebijakan sosial – dan literatur kebijakan sosial komparatif pada khususnya

Contohnya: Medicare, dimana program ini memberikan subsidi atau pelayanan gratis untuk kesehatan.

Titmuss: Occupational Welfare

Manfaat yang melekat pada pekerjaan yang memiliki tujuan serupa dengan kesejahteraan sosial, yaitu untuk menanggapi kebutuhan yang diakui secara sosial. Untuk menerima manfaat ini, individu harus dipekerjakan. Manfaat-manfaat ini seringkali, tetapi tidak selalu berarti, diamanatkan oleh negara.


Contoh: Cuti Sakit.

Titmuss: Fiscal Welfare

mengacu pada tunjangan pajak dan relief yang memenuhi kebutuhan yang diakui secara sosial dari mereka yang menerimanya (Titmuss 2001: 64). Kesejahteraan fiskal cenderung menguntungkan orang kaya, yang sering menerima potongan pajak yang lebih tinggi dan memiliki daya beli yang lebih besar.

Contoh: Supernasi konsensi pajak

Titmuss: Kategori Lainnya

Dalam beberapa tahun sejak Titmus menulis buku social dvision of welfare (1958), ada beberapa argumen termasuk kagori lebih lanjut tentang welfare:

  • Informal Welfare yang merupakan keuntungan welfare dan pelayanan yang diorganisasikan dan disediakan pada level rumah tangga oleh pasangan orang tua, keluarga, atau teman. Contohnya adalah perawatan yang diberikan oleh keluarga untuk anak-anak dan orang tua.
  • civil Welfare adalah termasuk keuntungan dan pelayanan yang diorganisasilan dan disediakan oleh komunitas non-profit. Contohnya: pelayanan pencari kerja oleh NGO.

Titmuss welfare models

Berbeda dengan pemahaman populer lainnya tentang welfare state dan kebijakan sosial pada saat itu (yaitu Marshall 1950; Wilensky dan Lebeaux 1965), Titmuss (1974) tidak melihat perkembangan welfare state yang universal sebagai pengembangan linear dari target dan residual. model. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa negara kesejahteraan di berbagai negara beroperasi dengan prinsip-prinsip yang bertentangan Titmuss mengembangkan tipologi dari kebijakan sosial sebagai berikut.

to help us see some order in all the disorder and confusion of facts, systems and choices concerning certain areas of our economic and social life

Titmuss (1974)

Dia tidak mendasarkan model-model ini pada penelitian yang luas, tetapi mengembangkannya untuk memperkirakan posisi nilai yang berbeda tentang kebijakan sosial. Sangat tepat untuk menganggap mereka sebagai perangkat heuristik.

Three Welfare Models

ResidualIndustrial AchievementInstitutional Redistributive
1. Kesejahteraan sosial adalah ‘jaring pengaman’ sementara bagi mereka yang tidak dapat memenuhi kebutuhan individu.
2. Pasar swasta memainkan peran utama dalam menyediakan kesejahteraan. Peran negara adalah pengaturan.
3. Intervensi pemerintah minimal dipahami untuk memastikan efisiensi terbesar dari keluarga dan pasar.
4. Kesejahteraan luar biasa diyakini menghasilkan disinsentif yang mengganggu ‘etos kerja’ dan keterikatan keluarga
1. Kesejahteraan sosial beroperasi sebagai ‘tambahan’ dari pasar. Ini memperkuat hierarki sosial yang ada.
2.Pasar swasta memainkan peran utama dalam penyediaan kesejahteraan secara langsung. Negara memiliki peran minimal dalam mengalokasikan sumber daya.
3. Kebijakan sosial diyakini memperkuat tatanan sosial dengan menegaskan kembali loyalitas kelas dan kelompok.
4. Redistribusi dari kaya ke miskin bukan fitur utama mode ini
1.Kesejahteraan sosial bersifat universal. Ini bertujuan untuk memberikan standar hidup minimum dan didistribusikan sesuai dengan ‘prinsip kebutuhan’.
2.Negara memiliki peran utama dalam penyediaan langsung kesejahteraan dan berupaya memperbaiki ketidaksetaraan struktural.
3.Kebijakan sosial digunakan untuk menciptakan kesetaraan sosial yang lebih besar berdasarkan prinsip keadilan sosial. Negara kesejahteraan membentuk lembaga terpadu utama.

Gosta Esping-Andersen (1947-)

Esping-Andersen adalah Profesor Sosiologi Denmark dan merupakan tokoh berpengaruh dalam kebijakan sosial komparatif. Karyanya tentang ‘three worlds of welfare capitalism’ mungkin merupakan studi kebijakan sosial komparatif yang paling berpengaruh dalam akhir-akhir ini.

Studying welfare regime

Terdapat dua agenda penelitian:

  1. Apa saja kekuatan penyebab di balik pembangunan negara kesejahteraan
  2. Apakah, dan dalam kondisi apa, pembagian kelas dan ketidaksetaraan sosial yang dihasilkan oleh kapitalisme dapat diatasi dengan demokrasi parlementer ”adalah pertanyaan sentral dalam studi negara kesejahteraan’. Dengan kata lain, dapatkah negara kesejahteraan secara fundamental mengubah masyarakat kapitalis?

Jadi, (kesejahteraan) negara, kelas, kapitalisme, dan demokrasi adalah variabel kunci 

Some explanations of how the welfare state has developed

  • Dari teori structuralist
    • Fokus sebelumnya: teori masyarakat industri = industrialisasi membuat kebijakan sosial diperlukan dan dimungkinkan. Pasar bukanlah pengganti yang memadai untuk keluarga, gereja dll dari masyarakat pra-industri karena hanya melayani mereka yang mampu tampil di dalamnya. Ini juga dimungkinkan oleh birokrasi modern.
  • Ke teori-teori tentang kelas sosial
    • Kelas sosial adalah agen utama perubahan. Parlemen adalah lembaga yang efektif untuk menerjemahkan kekuatan yang dimobilisasi ke dalam kebijakan dan reformasi yang diinginkan. Karenanya, welfare state melakukan lebih dari sekadar meringankan penyakit sistem saat ini.
  • Jadi, (kesejahteraan) negara, kelas, kapitalisme, dan demokrasi adalah variabel kunci

What is Wefare States?

  • Awal Penjelasan: Tugas negara untuk mengamankan bebearapa modal dasar kesejahteraan bagi warganya. Dalam konseptualisasi seperti itu, tingkat pengeluaran sosial mencerminkan komitmen negara terhadap kesejahteraan
  • Therborn: Kita harus mulai dengan konsepsi struktur negara. Paling tidak, di negara kesejahteraan sebagian besar kegiatan rutin hariannya harus dikhususkan untuk melayani kebutuhan kesejahteraan rumah tangga.
  • Titmuss: Kita harus melihat konten negara kesejahteraan. Tidak ada lebih atau kurang kesejahteraan, tetapi berbagai jenis negara.
  • Esping-Andersen, dengan Marshall ia berpendapat bahwa kewarganegaraan sosial merupakan gagasan inti dari negara kesejahteraan. Negara kesejahteraan melibatkan pemberian hak sosial – yang diberikan atas dasar kewarganegaraan alih-alih kinerja. Tetapi – katanya – negara kesejahteraan tidak dapat dipahami hanya dalam hal hak yang diberikannya. Kita juga harus memperhitungkan bagaimana aktivitas negara terkait dengan peran pasar dan keluarga dalam penyediaan sosial,

Understanding the welfare state (Esping-Andersen style)

Bersama dengan Polanyi, Esping-Andersen memandang hak sosial dalam hal kapasitas mereka untuk de-komodifikasi. Kriteria untuk hak sosial harus sejauh mana mereka mengizinkan orang untuk membuat standar hidup independen dari kekuatan pasar murni.

Social policy is supposed to address problems of stratification, but it also produces it. Equality has been what the welfare states were supposed to produce, yet the image of equality has always remained rather vague. The neglected issue is the welfare state as a stratification system in its own right.



Tulisan ini merupakan rangkuman sesi kuliah SOCI811 North, South, East, West: Comparative Social Policy (Week 2) oleh Dr Charlotte Overgaard di Macquarie University, Sydney, Australia pada sesi pertama tahun 2019

Leave a Reply