Other

Politik ala Pandji, tepat kah?

Seorang stand up comedian , Pandji Pragiwaksono berbicara hal diluar kapasitas dia sebagai seorang komedian :  bicara politik. Saya tidak mengerti bagaimana seorang Pandji memulai ini semua, mungkin ketika dia mulai dekat dan terlibat langsung dalam kegiatan politik Anies Baswedan, dia mulai mau berbicara hal politik. Mungkin saja, pemikiran Anies Baswedan mempengaruhi Pandji untuk terbuka dalam topik yang coreng-moreng ini.

Masuk kebelantara politik berarti kita menerima konsekuensi akan hitam-putih,suka-benci, benar-salah, dan mendukung-menjatuhkan. Secara tidak langsung,politik membuat idiosinkrasi yang kontras. Begitu juga dengan Pandji. Dia harusmenerima digandrungi oleh yang sepaham, dan tiba-tiba dibenci oleh yangberlawanan. Saya yakin Pandji meyakini benar akan konsekuensi ini dimana padadasarnya komedi menjadi ranah yang aman. Tidak ada orang yang membenci komediankarena dia kurang lucu, tapi ada yang benci temanya sendiri karena pahampolitik yang berbeda. Begitu jahatnya politik. Iya, beringas.

Lalu apakah ada space di tengah-tengah dua pusaran politik yang berlawanan. Sayamencari pertanyaan ini di quora.com dengan contohkasus Amerika Serikat, : Apakah ada ruang tengah antara Republicandan Democrat? jawabannyasecara teknis tidak ada, tapi bisa dirasionalkan apabila ingin ada. Maksudsaya, secara elementer politik seperti pusaran kuadran yang kontras, membuatorang harus memilih dimensi mana yang sesuai. Sebagaimana pun seseorang untuknetral atau golput, pasti ada satu dua persepsi dalam diri mereka untukdapat memihak dari kecenderungan-kecenderungan yang mereka miliki tapi memangmereka enggan untuk menampakkannya.

Sehingga sayaingin melihat sosok Pandji dari space di tengah-tengahitu, walaupun sulit tapi saya coba merasionalkan diri saya sendiri.Kesimpulannya, saya melihat dua hal dari sosok Pandji yang bicara politik.Pertama, dia memang memperjuangkan apa yang menurut dia benar walaupun banyakrisiko yang menanti. Dan itu tidak salah sama sekali. Dia bukanlah seorangpolitisi dan tidak mempunyai keuntungan materiil apa pun dari keberpihakannyayang berarti bahwa pendapat yang ia lemparkan ke publik adalah perjuangan akankebanaran. Namun, yang kedua, para penonton harus mengerti benar bahwa politikyang dibicarakan Pandji adalah sudut pandang dari seorang komedian. Kuadranyang dia berdiri sekarang berasal dari posisi yang — bisa jadi — terbatasdari pendapat-pendapat lain yang berseberangan; atau, pendapat Pandji perlupublik validasi sendiri pada pendapat-pendapat lain. Biar nantinya, adakomparasi yang menyeluruh dari berbagai kacamata. Hal itu bisa membuat kita,sebagai publik, semakin kritis dan pintar untuk mengolah informasi yang didapat.

Singkat kata,seorang Pandji rasanya tidak cukup untuk mengemukakan sudut pandangnya. Kitaperlu seorang dokter, koki, peneliti, guru, dan pedagang pasar sekaligus untukmengemukakan pendapat mereka tentang politik. Sehingga politik ini menjadihidangan pembuka kita yang gurih bukan pahit. Perbedaan pusaran hanya masalahsudut pandang, bukan perkara esensial. Selain itu, masyarakat kita perlubelajar banyak tentang kritis. Kritis belum tentu menyudutkan, tapi mengolahinformasi yang adil dan benar dalam pemikiran kita. Kebanyakan kita yang berpihakterlalu egocentrict untuk melihat orang yang berlawanan pendapat sebagaimusuh, dan membenarkan apa yang sepihak walau itu salah.

Leave a Reply