Travel/Culture

The Girl with All Gifts

Ada dua hal yang saya suka dan sering tertuang diblog ini, yaitu Novel dan Film Zombie. Pertama adalah Novel, sederhananya adalah sebuah cerita yang dalam dan kompleks. Lalu Film Zombie, sebuah genre yang monoton tapi tetap saya sukai.  Nah, keduanya tertuang dalam sebuah karya bagus, Sebuah Film yang diangkat dari Novel, yaitu The Gitl with All Gifts karya Mike Carey yang digarap oleh Colm MacCarthy.

Setahu saya film ini bukanlah film zombie pertama yang diangkat dari Novel. Ada World War Z yang memukul mundur 21 Days Later dan Night of Living dead sebagai film zombie favorit saya. Atau Walking dead yang diangkat dari cerita bergambar. Film film tersebut mempunya cerita yang dalam, ketimbang aksi kejar-gigit-berubah.

Oke. Cerita yang saya suka bukan karena “virus zombie hasil uji coba ilmuwan yang gagal”. Bukan, mungkin itu penyebabnya, tapi bukan dalam film ini. Film ini memulai dengan sebuah frame sadistic dari sekolompok anak-anak dalam pendidikan yang tidak manusiawi dalam sebuah penjara bawah tanah. Pada titik ini, agak susah orang menebak ini adalah cerita zombie. Singkatnya, salah satu anak dari kelompok itu bernama Melanie merupakan anak yang cerdas. Salah satu guru dalam pendidikan itu, Helen, tidak bisa menghiraukan rasa manusiawinya pada Melanie, walaupun terdapat pertentangan hebat dari Sgt. Eddie Parks, seorang tentara. Disisi lain Dr. Caroline Caldwell berusaha mencari vaksin dari otak anak-anak yang diberikan hadiah ini. Cerita semakin menarik ketika para Hunger (sebutan untuk zombie) merangsak masuk ke camp mereka. Sehingga Melanie, Helen, Dr Caldwe, Park, dan lainnya berpetualan di alam luar.

Keberhasilan film ini tidak lepas dar sang director, Colm MacCarthy yang mampu mengestrak sebuah novel menjadi film yang menarik. Padahal MacCarthy sebelumnya belum pernah menggarap film Zombie. Satu film yang saya tahu diarsiteki oleh MacCarthy adalah film serial Sherlock.

Akhirnya, saya sangat senang menulis review tentang film ini, karena ketika menonton film ini, perasaan yang saya rasakan sama ketika menonton film 21 Days Later saat pertama kali.

Leave a Reply