Other

Pengalaman Menjadi Merchant di Blibli dan Lazada

Menurut saya, Blibli dan Lazada adalah sebuah portal mall online terbesar di Indonesia. Walaupun saya kurang tahu pasti, tapi saya yakin traffic dan pelanggan di kedua e-commerce tersebut pasti berlimpah. Setiap penjual online pasti berkeinginan berjualan di kedua portal tersebut, termasuk saya.

Berbeda dengan Bukalapak dan Tokopedia, Blibli dan Lazada memiliki standar dan kualitas yang tinggi terhadap seller. Tidak semua orang bisa mendaftarkan diri dikedua e-commerce tersebut, karena melalui perjanjian kerja sama yang tekah disepakati. Sederhananya, kita ibaratkan seluler sebagai tenang yang ingin menyewa satu ruko di mal (biblio & lada). Sebelum menempati mal tersebut, disepakati kerja sama, apakah barang yang dijual sesuai dengan peraturan mall, kualitas terjamin, serta pelayanan harus prima. Pihak mall tidak ingin membuat kecewa dimana si mall juga akan turut rugi. Nah proses kerja sama (atau sering disebut sebagai PKS) adalah langkah utama yang sering terkendala bagi para calon merchant. Alhamdulillah saya sudah sepakat dengan kerja sama pada kedua ecommerce ini.

Dalam artikel ini saya tidak akan membahas masalah teknis alur proses dari kedua portal tersebut secara terperinci. Mungkin di artikel lain saya bisa membahasnya. Tapi perbedaan dalam proses perjanjian kerja sama dari dua portal tersebut.

Pertama kali adalah saya mendaftar di Blibli pada bulan Februari, 2017. Melalui form online yang tersedia. Esoknya saya ditelepon oleh Blibli untuk konfirmasi kelanjutannya. Singkatnya saya diharuskan mentransfer Rp 500.000 sebagai deposit dan mengirimkan surat Perjanjian Kerja sama Sama (PKS) yang sudah dimaterai ke kantor Blibli. Di hari yang sama toko saya aktif.

Lalu di Lazada, saya pun mengisi form di website Lazada. PKS ditandatangani digital, tanpa harus ada materai. Tidak ada deposit (mungkin sedang promo), di hari yang sama toko saya aktif.

Dari pengalaman saya, Blibli memiliki proses yang lebih ketat. Tidak hanya dalam QC seller baru, tetapi dalam upload produk dan penalti. Sebenarnya itu sudah jelas, dari produk-produk yang ditampilkan di Blibli, walau lebih sedikit tapi berkualitas dan terpercaya. Saya, sebagai merchant, menganggap dua proses ini sebagai tantangan. Toh tujuannya baik, yaitu untuk meningkatkan pelayanan terhadap pembeli.

3 Comments

  1. Untari

    May 7, 2018 at 00:43

    Sangat membantu untuk yang ingin membuka merchant di 2 marketplace tsb. Apalagi Blibli krn sy sedang merencanakan buka di sana

  2. Ratih

    September 7, 2018 at 06:36

    Untuk setiap dana yg kita cairkan di potong brp persen dr harga jual min… Saya lagi ngajuin jdi seller tapi blm ada konfirmasi Dan kalau di lazada saya sudah bergabung dan alkhamdullilah hasilnya seperti yg kita harapkan… Tapi blibli kayanya lebih ribet ya

    1. Maulana Akbar

      October 1, 2018 at 00:08

      pengalaman saya blibli lebih ketat dari lazada. Di blibli saya hanya menjual beberapa barang, karena mulai dari foto dan konten itu QC ketat. Selain itu, kita hanya bisa menjual dari beberapa kategori produk saja mbak Ratih. Kalau potongan fee, sama seperti lazada tergantung dari kategori barang. Semoga bisa menjawab 🙂

Leave a Reply