Story

3.15

Dalam bayanganku, ada beberapa bayangan menyeramkan seperti anak kecil dalam film Ju-On.  Anak kecil dengan wajah Asia berkulit putih tulang, seperti ditaburi bedak saripohatji sebanyak tiga bungkus seharga lima puluh perak pada tahun 1980an.  Ia menengok lantas menatap gidik mataku. Ia tidak bertutur atau mengoceh. Aku berharap kalau ia adalah Jibril yang turun dan memberikan sabda. Tapi ternyata bukan.

Lalu aku berharap yang lain, semoga saja anak itu adalah manusia. kesasar ketika memburu layangan. Tapi aku luput. Anak berwajah Asia tidak pernah memburu layangan. Mereka biasanya membeli lalu memutuskannya. Wajah hitam, keriting, bau sepertiku lah yang memberi layangan karena tidak punya kepingan.

O, ya. Bisa saja itu setan yang masuk ke dalam cairan otakku yang hanya digunakan satu-persepuluhannya. Bisa jadi. Bisa saja.

Belum selesai aku menduga, aku mendengar ia tertawa kecil.

“Ya aku tahu.. dia bukan anak kecil. Suaranya adalah suara perempuan,” Itu ucapan bisu yang aku ucapkan.

Perempuan mungil itu mendekatiku. Wajahnya hampir menempel di wajahku. Sekitar dua mili hingga aku merasa nyanyian nafasnya di wajahku. Ia menggoyangkan wajahnya ke kiri lalu kanan. Sebenarnya itu menggemaskan, tapi untuk kali ini tidak.

Aku membeku, bangkar, mangkar, atau apalah itu yang menggambarkan aku seperti makhluk berkalang tanah.

Aku ingat ia berkata : Mampus… Mampus… Tinggalkanlah… Cari jalan jangan kesasar… Atau Mampus… Mampus…

***

Aku bangun lalu melihat jam sudah pukul 3.15 dini hari. Aku mencatat mimpi itu di kertas di samping kasurku. Lalu penasaran dengan ucapannya karena aku sebenarnya ingin membalas pernyataannya dan berbincang sembari mengajaknya ke kedai kopi.

Setelah tidur yang kesekian kali. Aku tidak melihatnya.

Tapi ketika aku mengingatnya kembali. Suara itu aku kenal benar. Aku tahu jelas pada empat belas tahun lalu ketika masa kanak-kanak di  Ciamis. Seorang anak perempuan yang aku lupa namanya tapi entah mengapa aku ingat jelas wajah dan suaranya. Anak perempuan yang ketika upacara bendera tidak bisa hormat dengan benar karena jari tangannya tidak bisa lurus. Anak yang masih samar-samar antara maya atau benar. Ketika makin kuingat aku makin ragu.

Namun aku kagum dengan mimpi. Mengingatkanku atas memori terdalam dalam otakku. ia tidak benar-benar lupa tapi kadang memang mengerikan. Seperti perempuan itu.

Aku masih berpikir keras mengingat namanya. Kalau bertemu lagi.  Aku akan tanya namanya. Pasti.

Leave a Reply