Story

Marjati

  1. Jagung

Marjati, gadis enam belas tahun asal Garut, adalah gadis yang benar baru matang. Buah dada yang siap dipetik juga lekukan tubuhnya yang siap di eksplorasi menjadikan dia adalah kutub magnet dari semua pria di sekelilingnya. Tiap harinya, ia berjalan sejauh enam kilometer untuk berjalan ke pasar Tarogonng untuk menjual jagung dari kebunnya. Biasanya, setiap kali ia berangkat ke pasar, lelaki-lelaki kampung mengantre untuk mengantarnya dengan jalan kaki atau sepeda ontel. Seperti anak si juru tulis asal Jogja, Suriyo, yang siap mengantarkan dengan sepeda religh seharga 200 gulden. Suriyo bukan anak priayi yang sombong dan hura-hura, tapi anak kaya yang menghabiskan waktunya di masjid kampung.

Sebenarnya, ia adalah orang yang tidak mengerti sama sekali tentang hubungan lawan jenis. Marjati hanya tahu membantu emak di ladang dan menjual jagung ke pasar. Itu ia lakukan sejak kecil ketika pada awalnya hanya mengantar emak nya berjualan di pasar. Ketika ia mampu menghafal jalan serta berjualan tanpa pengawasan, ia sudah bisa berangkat sendiri ke pasar untuk berjualan.

  1. Janur

Suriyo, sudah berdiri tegap di depan gubuk bambu kecil itu. Di dalamnya ada gadis belia yang kebingungan dan kedua orang tuanya yang ling-lung antara senang dan duka. Senang karena sebentar lagi anaknya dipinang. Duka karena setelah enam belas tahun, anak satu-satunya akan minggat menempuh hidup yang lebih baik.

Setelah beberapa kali matahari mondar-mandir di genting gubuk kecil itu, akhirnya Marjati dan Suriyo pergi jauh. Katanya ia pergi ke arah timur, membangun rumah di atas tanah berhektar-hektar hasil pembagian harta ayahnya yang terlalu banyak dimana-mana. Takut lupa katanya, lebih baik anaknya saja yang mengurusi.

III. Bendera Putih

Marjati kini tidak usah berjualan jagung. Tiap pagi sudah ada jagung, salak, dan pisang di piring kaleng di beranda rumahnya. Ketika matahari mulai naik, ia hanya berpangku kaki melihat pekerjanya yang wara-wiri. Lalu pada saat matahari terbenam, ia tinggal menunggu suaminya pulang membawa uang berkantung-kantung. Nikmatnya saat ini, Marjati sering berucap demikian.

Surat Kawat datang di pagi itu, isinya ayah-ibunya tiada. Beritanya singkat dan cukup membuat Marjati menangis sejadi-jadinya. Atas izin suaminya, ia pulang diantar pegawainya, Jono, si tukang cangkul.

Dua hari setelahnya ia tiba. ayah-ibunya sudah dikubur di depan reruntuhan gubuk yang gosong. Tetangga bilang, di tengah malam api melalap habis gubuk dan isinya. Warga mencoba menolong namun apa mau dikata, api lebih cepat bekerja.

IV.Merah-Putih

Dari berita yang sudah ada, Indonesia katanya sudah merdeka. Beritanya simpang-siur tapi banyak yang meyakini benar adanya. Bagi Marjati, apalah bedanya karena tidak merdeka ia kaya, setelah merdeka ya hartanya tidak berkurang sedikit pun.

Kabar baiknya, beberapa bulan setelahnya Marjati bersama suaminya pindah ke daerah Malangbong, Garut. Marjati senang bukan kepalang. Ia dengan penuh semangat pindah ke tanah ia dilahirkan.

Rumahnya besar dan halamannya luas sampai ujung mata menampak. Letaknya beberapa kilo dari tempat kelahirannya tapi apalah artinya karena sudah ada tidak ada siapa pun di gubuk ia besar. Hanya saja, ia beberapa kali mengunjungi rumah uwak nya yang tidak jauh dari rumahnya. Obat membakar bosan dikala senggang.

  1. Putih-Putih

Dari yang Marjati tahu, suaminya yang Shaleh itu kini sering mengikuti pertemuan penting dengan tokoh asal Jawa yang menikah dengan orang sini, namanya Kartosoewirjo. Suriyo sangat menggandrungi tokoh tersebut terutama atas prinsip keislamannya yang kuat.

Harta nya juga tanah makin sini makin banyak yang dijual. Katanya, untuk perjuangan agama dan tanah air. Semenjak di sini, aku merasa bahwa Suriyo, suamiku yang sudah aku kenal sejak sepuluh tahun lalu, sudah berubah. Tapi entah apa yang berubah, aku pun bingung.

  1. Pagar-Betis

Tengah malam, suaminya membangunkan Marjati. Wajahnya pucat dan ketakutan, katanya tentara sudah datang ke Malangbong. Suriyo berkata bahwa Marjati harus tetap di rumah sampai ia datang. Ia lalu pergi, di antara kabut yang pekat. Itulah saat-saat singkat Marjati bertemu dengan suaminya.

Setelah hari itu, warga sekampung memojokkan Marjati. Seakan ia adalah pemberontak. Yang membuatnya makin hancur, suaminya tak kunjung pulang. Ia tetap menunggu hingga jauh-jauh hari setelahnya.

Kabar baik Marjati dapat, katanya, pendukung Kartosoewirjo sudah turun gunung sebagian. Ketika ia memeriksa, tidak ada suaminya di sana. Ia menunggu terus.

Setelah beberapa minggu, Kartosoewirjo ditangkap. Rakyat bersuka ria. Marjati berduka. Karena tidak ada jejak suaminya datang kembali.

Marjati stres sudah. Pikirannya kacau. Air matanya habis. Badanya gemetaran karena makanan menolak tubuhnya.

VII. Gelap

Ti, Marjati geura gugah neng. Bangun hayu jualan jagung ke pasar,” suara samar-samar yang khas. Marjati masih menangis, ” hayu Ti hayu…..

Marjati yang matanya mulai jernih dari buram menatap sosok itu. Ibunya sudah berdiri. Marjati tertawa tanpa emosional. Ia pikir wajarlah walau ia sudah menjadi gila. Ia tertawa terbahak-bahak.

Walau suaminya tidak datang. Ia pun keluar bersama ibunya. Dan tidak pernah kembali.

Jakarta, 3 Juli 2014

Leave a Reply