Story

Risau Kokom

Aku melihat kokom begitu tak berhasrat. Terlebih setelah Ryan keluar dari sini tanpa pemberitahuan dan Nindy yang tiba-tiba sakit.  Aku bisa melihat dari caranya berbicara di siang ini, niscaya hanya kami berdua yang bisa menyempatkan makan siang diluar.  

Seperti biasa topik yang lontarkan pertama kali adalah tentang pekerjaan, memang kami semua merasakan kejanggalan disini terutama ketika banyak sekali pegawai yang berputar, setiap minggu hampir selalu ada yang resign dan sign.  Selain itu, Tunjangan yang dipotong padahal semua kebutuhan cenderung naik imbas dari kenaikan BBM dan pekerjaan yang tidak sesuai kualifikasi ketika pertama kami lihat deskripsi pada lowongan pekerjaan. 

Alasan-alasan itu membuat empat orang dalam divisi kami akan keluar setelah lebaran ini, itu membuat 58% posisi di R&D kosong tanpa penghuni. Kami semua mencoba untuk mencari kesempatan di tempat lain di perusahaan yang lebih sehat. Namun dari diriku sebenarnya bukanlah itu alasanya karena aku setidaknya memaklumi keadaan perusahaan yang sedang kesulitan keuangan akhir-akhir ini. Tapi karena aku ingin bekerja dengan perkerjaan yang lebih berbobot. 

Makan begitu lambat ia habiskan, bahkan ketika aku selesai dia hanya habis separuhnya. Itulah caranya untuk mengulur waktu agar bernafas sejenak untuk memulai pekerjaan yang kurang menyenangkan baginya. Kulihat ia masih cemas dan berharap agar dapat pekerjaan yang layak dalam waktu dekat, sesekali sambil menarik nafas panjang dan kembali mengeluh. Hal yang membuat ia tersenyum adalah ketika ia bercerita tentang pacarnya yang akan datang ke Indonesia sehabis menempuh pendndikan di Amerika pada bulan ini, mereka akan merencanakan pernikahan di tahun depan. 

Panjang lebar kami berbincang, akhirnya pukul 13.30 kami kembali untuk bekerja.  

Leave a Reply