Other

Pencitraan Ridwan Kamil

Citra artinya gambar atau menggambarkan. Sedangkan pencitraan, pada zaman ini, mempunyai arti upaya untuk menggambarkan diri sendiri dalam artian negatif, dusta, gombal, dan licik. Ungkapan ini biasanya erat dengan prilaku pejabat negara yang melakukan kegiatan sosial – biasanya hampir bersamaan dengan liputan media. Hal ini beralasan karena banyak khalayak berpendapat pejabat negara itu jabatan yang kotor, terlalu eksentrik apabila melakukan kegiatan baik.

Adapun ketika pejabat benar-benar ‘kepingin’ punya niatan ‘baik’ biasanya sudah diserang dengan makian ‘pencitraan’. “gawe diberitakeun disebut pencitraan. teu diberitakeun disebut tara gawe. sabar we, ” ujar Ridwan Kamil, Walikota Bandung, melalui kicaucan twitter membalas kicauuan salah satu netiezn yang melantarkan tuduhan itu.

Memang ketika suatu program terliput media selalu akan ada dua kemungkinan : pencitraan atau program benar-benar sukses – dan memang patut masuk berita. Dalam hal ini, Ridwan Kamil menurut penulis lebih banyak memiliki program yang lebih inovatif dan banyak berdampak langsung masyarakat. Mereka yang kontradiksi dengan itu, bisa jadi, karena sudah terlalu skeptis dengan pemerintahan.

Tidak bermaksud untuk memberikan opini yang menguntungkan Ridwan Kamil (RK), tetapi penulis melihat masyarakat Bandung sudah mulai merasakan secara langung programnya. Silakan saja datang ke area publik di Bandung, lalu perhatikan wajah-wajah mereka – masyarakat Bandung. Anda bisa melakukan deduksi bahwa masyarakat Bandung kini lebih bahagia, kiranya anda harus selaras dengan pendapat saya.

Masyarakat Bandung pula, rasanya, sudah mulai percaya dan patuh akan sosok  RK. Masyarakat yang sudah jatuh cinta pada pemimpinya akan selalu mengikuti arah dari telunjuk pemimpin.  Misal, siapa yang mau melakukan kegiatan sukarela tanpa pamrih? Dijaman ketika kencing-pun harus bayar?  Jawabanya ada : sekitar 15.000 orang bersedia menjadi sukarelawan Konfrensi Asia Afrika (KAA) hanya dari  dari kicauan RK.

Apabila ditelisik mundur, istilah pencitraan mulai muncul pada saat hiruk-pikuk berita tentang Jokowi – walikota Solo pada waktu itu — dengan jurusnya sidak langsung ke lapangan. Massa yang tidak yakin mendakwa prilaku kerakyatan Jokowi dengan istilah ‘pencitraan’. Istilah ini seakan mengiyakan masyarakat, yang terbiasa sangsi dengan pejabat, untuk mengenakan istilah yang sama pada situasi yang beragam.

ridwan-kamil

Masyarakat Bandung berbondong-bondong untuk gotong royong atas seruan ridwan kamil. Situasinya mirip dengan masyarakat Jakarta mengikuti rapat raksasa di lapangan Ikada bersama Bung Karno (19 September 1945)

Dalam satu esainya di Majalah Tempo pada tanggal 13 Noveber 1976, Goenawan Mohammad pernah menulis begini : Kampanye adalah satu proses pengemisan itu ….. Kini cara baru itu menjadi satu kemestian, seorang calon presiden mesti menjadi seorang salesman, juru jual yang membujuk bagi dirinya sendiri dan cita-citanya. Ia harus bersedia mandi keringat, lelah, kotor, dengan tangan lecet saking banyaknya berjabatan.

Proses pengemisan, seperti kata Goenawan Mohammad, sering dipraktekan seperti seorang pengemis tulen : pura-pura sakit untuk menarik rasa iba. Juga, Mendi keringat, lelah, kotor, dan tangan dilakukan apabila ada lensa saja. Praktek-praktek semu inilah yang keliru.

tukang-becak

kalau ini pecitraan?

Sebaiknya kita perlu membagi pencitraan pada dua hal, dalam khazanah yang positif dan negatif. Sebagai seorang pejabat rasanya perlu juga pencitraan, tapi dalam khazanah yang positif, yaitu upaya menggambarkan diri sendiri lebih baik di mata masyarakat tapi dengan cara yang semestinya dan perlakuan yang benar-benar untuk masyarakat semata. Pencitraan dengan khazanah negatif adalah pandangan pencitraan sudah berkembang di masyarakat kita.

Sebagai warga Bandung, yang merasakan langsung dampak kebijakan pemerintah kota, saya bisa dengan mudah untuk memasukan pemerintahan RK ke dalam kategori pencitraan positif,  lalu bagaimana dengan yang lainya?

 

Leave a Reply